Pdt. RJ Banoet Tetap Semangat Melayani Meski Hanya Hidup dengan Satu Ginjal

0

KUPANG – Ginjal merupakan salah satu organ di dalam tubuh manusia yang memiliki peran penting. Satu ginjal saja rusak, bisa berpengaruh banyak terhadap kehidupan seseorang. Pdt. Roderick Julianus (RJ) Banoet, seorang hamba Tuhan di Gereja Masehi Injili Di Timor (GMIT) salah satu orang yang harus hidup dengan satu ginjal.

Meskipun sulit, tapi Pdt. RJ Banoet memilih tidak menyerah pada keadaan. Ia tetap terus berkarya dalam hidupnya. Cerita itu terungkap ketika dirinya berkunjung ke Kantor Sinode GMIT untuk mendonasikan lebih dari 200 buku teologi miliknya kepada Sinode GMIT sekaligus merayaka hari ulang tahunnya yang ke-80 pada 23 Juli 2020.

Kurang lebih sudah 40 tahun Pdt. RJ Banoet harus hidup dengan satu ginjal karena kecelakaan motor yang ia alami. Ketika itu, motornya menabrak dinding tembok di ruas jalan Pemuda, Kuanino-Kupang. Tubuhnya terpelanting dan menggeletak di antara tumpukan drum aspal. “Saya kira saya sudah mati,” ungkapnya yang dikutip vifamedia.com dari website Sinode GMIT, Senin (27/7/2020).

Baca juga:  Fidel Benedic Babu, Anak Yatim Berdoa untuk Indonesia Agar Diberkati

Dari kecelakaan tersebut, ginjal kanannya mengalami cidera dan harus diangkat. Ayah dari Abi Yeremia Banoet ini sadar jika ia masih ada sampai saat ini semua hanya karena anugerah Tuhan. “Sampai hari ini saya masih hidup dengan satu ginjal. Itu hanya karena kemurahan Tuhan,” tuturnya.

Demi bisa menjalani hari-harinya berjalan dengan baik, ayah dari Eli Natani Kefi Banoet ini menjalani pola hidup sehat. Hal itu terbukti, meskipun secara organ sudah “cacat”, Pdt. RJ Banoet pernah menjadi Ketua Badan Pekerja Klasis (BPK) Mollo Timur dan Mollo Utara tahun 1991-1995, 1995-1999. “Jangan pernah menonaktifkan fisik, karena orang yang menonaktifkan fisik, ia tak punya kehidupan yang berkualitas,” pesannya.

Baca juga:  85% Milenial Terpapar Radikalisme, Ruang Digital Tempat Masuknya

Pendeta yang gemar membaca ini merupakan sarjana lulusan STT Jakarta tahun 1973 dan magister tahun 1985. Ia ditahbiskan menjadi pendeta GMIT tahun 1973. Beberapa jemaat yang pernah dilayani yaitu jemaat Ebenhaeser Oeba, Jemaat Pal Satu (Manutapen), Jemaat Koinonia Kuanino, Jemaat Paulus, dan Jemaat Horeb Perumnas.

Suami dari dr. Arance Adolfina Markus ini juga pernah melayani Jemaat Wilayah Loli, klasis Mollo Timur dan setelah itu dimutasi ke Jemaat Ebenhaeser Kapan. Kemudian tahun 1999, ia dimutasi ke Kupang dan ditempatkan di Jemaat Sion Oepura hingga emeritus. (Kontributor: LN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here