Pdt.Sadikun Lie : Rohaniawan Menjadi Pewarta Kabar Sukacita disaat Pandemi

0
Ilustrasi : Pdt. Sadikun Lie. Sumber : istimewa

Bekasi – Melihat Pro dan kontra fenomena pemberian Vaksin Covid 19 merupakan adalah hal yang wajar terjadi, sehingga hal tersebut menjadi bijak untuk disingkapi dengan mengacu pada sumber-sumber informasi yang kompenten dalam menilai. Menentukan sikap yang wajar diperlukan dalam menghadapi pro dan kontra dalam hal pemberian Vaksin ini. Hal ini dikemukakan oleh Ketua STT. Harapan Indah dan Ketua BPH. Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Pdt. Sadikun Lie, Senin Sore (18/01/2021) di Harapan Indah, Bekasi bersama Vifa Media. “Memang harus dipastikan, apakah pro kontra ini memang punya bidang untuk dapat dikaji terkait dengan masalah yang dihadapi,” ujarnya.

Pdt. Sadikun yang juga menjabat sebagai Gembala Jemaat Gereja Pantekosta Kudus Indonesia (GEPKIN) Taman Harapan Baru, Bekasi mengemukakan bahwa sebenarnya masalah ketersediaan vaksin bisa menjadi skala prioritas untuk komunitas yang harus prioritaskan. “Dan yang paling penting kehadiran vaksin ini tidak lantas menjadi euphoria yang akan menjebol garda terdepan. Untuk mencapai tingkat herd imunnity untuk Indonesia, maka jumlah yang harus divaksinasi diperkirakan 181 juta orang dan diperkirakan baru akan terealisasi dalam 15 bulan kedepan. Jadi solusi utama adalah dengan menerapkan protocol kesehatan, dengan 3M dan juga stay at home, work from home, study from home dan seterusnya. Intinya bagaimana bisa mencegah dari kumpulan orang banyak,”jelasnya.

Baca juga:  Gereja Ortodoks Serbia Dipimpin Porfirije

Ketika ditanya mengenai isu bahwa vaksin ini ada hubungannya dengan antikris 666, Pdt. Sadikun menjelaskan secara pribadi masalah vaksin dan masalah virus adalah murni masalah kesehatan, menyangkut hajat hidup orang banyak karena sifatnya pandemi atau meliputi seluruh dunia.”Sebagai rohaniwan saya merasa terlalu jauh dan terlalu sederhana mengaitkan ini dengan masalah Antikristus dan angka 666. Diawal pandemi ada isu bahwa hal ini adalah konspirasi tangan- tangan jahat yang berkaitan dengan ekonomi dan politik, tetapi berjalannya waktu serta melalui berbagai penelitian ternyata virus tidak dapat diciptakan, beda dengan bakteri,” paparnya.

Dalam hal ini, menurutnya kesadaran masyarakat diperlukan. Artinya adalah vaksinasi tetap dilakukan disaat tingkat orang yang terpapar positif covid 19 semakin meningkat. Banyaknya kasus covid dikarenakan banyak mengabaikan penerapan protocol kesehatan. Melihat kasus ini, tentunya vaksin tidak dapat membantu penurunan kasus persebaran Covid 19 ini. Sebelum herd imunnity tercapai, vaksin bukan pengganti protokol kesehatan dan vaksin juga bukan satu-satunya untuk mencegah dan menurunkan penyebaran Covid 19.

Baca juga:  Sikap KWI Terhadap Bom Makassar: Tetap Tenang dan Jangan Terprofokasi

Pdt. Sadikun mengatakan bahwa rohaniawan harus menjadi pewarta kabar sukacita yang membangkitkan harapan ditengah berbagai tekanan dan himpitan. “Kita harus tetap produktif ditengah situasi sulit, sehingga tidak mengurangi kualitas kehidupan, tidak menyerah dan menerapkan pola karya dan cipta melalui adaptasi kebiasaan baru, dengan tidak mengaitkan
pandemi ini sebagai kutukan Sang Ilahi apapun pertimbangannya,” katanya mengutip dari ayat Roma 8:28. Umat Tuhan menurutnya harus bisa hadir ditengah dunia yang sedang terancam dengan membawa harapan. “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang, mengutip dari kitab Amsal 23:18,” jelasnya ketika mengakhiri wawancara. (Jaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here