Pdt. SAE Nababan, Tokoh Gerakan Oikumene Internasional yang Kini Telah Dipanggil Tuhan

0
Pdt SAE Nababan
Pdt SAE Nababan

Jakarta – Pendeta Soritua Albert Ernst atau SAE Nababan meninggal pada Sabtu, 8 Mei 2021 di RS Medistra Jakarta pada usia 88 tahun. Sesama hidupnya, Pdt. SAE Nababan dikenal karena gerakan oikoumene nasional dan internasional.

“Gereja-gereja di Indonesia kehilangan tokoh gereja yang sangat berpengaruh dalam gerakan oikoumene, baik di kancah nasional maupun internasional,” kata Ketum PGI Pdt. Gomar Gultom dalam keterangannya, Sabtu (8/5/2021).

Menurut Pdt. Gomar peran penting Pdt SAE Nababan dalam gerakan oikumene internasional adalah kegigihannya memperjuangkan keadilan lebih daripada sekedar perdamaian. Selama keadilan ekonomi Utara-Selatan tidak diperbaiki, maka perdamaian dunia tidak akan tercapai.

Seperti dalam sidang raya Dewan Gereja Dunia di Busan tahun 2011. Pdt. SAE Nababan menolak perumusan just peace, sebagaimana diusulkan oleh Central Committee. Pdt. Gomar ingat betul Pdt. SAE Nababan selalu mendesak dirinya (saat itu menjabat sebagai Sekum PGI) dan Pdt. Yewangoe (Ketum PGI) agar PGI bersama-sama gereja-gereja di Asia kembali mengedepankan keadailan.

“Dalam perumusan JPIC (Justice, Peace and Integrity of Creation) pada akhir 70-an, gereja-gereja di belahan Utara cenderung mendahulukan Perdamaian baru kemudian Keadilan. Tapi SAE Nababan selalu ngotot, keadilan harus lebih dahulu, karena tanpa keadilan, perdamaian itu semu. Akhirnya WCC memang merumuskan justice dulu baru Peace,” ceritanya.

“Selama keadilan ekonomi Utara-Selatan tidak diperbaiki, maka perdamaian dunia tidak akan tercapai. Olehnya, beliau selalu mendorong Dewan Gereja se-Dunia untuk mengagendakan bantuan gereja-gereja di Utara kepada gereja-gereja di Selatan. Dan beliau selalu menekankan bahwa itu bukan sebagai hadiah dari gereja di belahan Utara, tetapi adalah hak dari negara-negara di Selatan, karena telah dihisap selama ini oleh ketimpangan Utara-Selatan,” tambah Pdt. Gomar.

Baca juga:  UIE “Ikat” Tali Persaudaraan Yahudi, Kristen dan Islam dengan Mendirikan Rumah Abrahamik

Di sisi lain, sumbangan penting lain dari Pdt. SAE Nababan untuk gereja di Indonesia adalah membantu perumusan sikap gereja menghadapai UU no 8 tahun 1985 tentang Ormas. Pdt. Gomar menjelaskan, saat itu gereja mengalami kesulitan tentang azas tunggal Pancasila, sebab akan bertentang dengan Alkitab yang mengatakan Kristuslah dasar gereja dan tidak ada yang bisa menggantikan itu.

“Selama setahun PGI menolak memasukkan azas tunggal itu dalam tata dasar gereja, hingga akhirnya dirumuskan seperti yang kita kenal sekarang. Dimulai dengan pengakuan: PGI mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat dunia serta Kepala gereja, …..sesuai dengan Firman Allah dalam Alkitab (1Kor 3:11). Sesudah pasal yang berbunyi barulah masuk ke pasal tentang azas yang berbunyi: ‘Dalam terang pengakuan yang tercantum dalam pasal di atas, PGI berazaskan Pancasila dalam kebidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara’,” paparnya.

Secara pribadi, Pdt. Gomar mengakui dirinya memiliki kedekatan dengan Pdt. SAE Nababan sejak masih menjadi mahasiswa. Saat memasuki tahun kedua di STT Jakarta, Pdt. Gomar sering dipanggil Pdt. SAE Nababan di kantor PGI, Jl Salemba Raya No. 10.

Baca juga:  Harapan PGI kepada Menteri Agama Terkait Pelajaran Agama di Sekolah

“Saat menjalani masa vikariat, masa pelayanan sebagai calon pendeta, pun saya beberapa kali mendapat ‘hadiah’ darinya, berupa nasihat dan bimbingan. Siapa tidak bangga, beliau waktu itu menjabat Sekum PGI, dan anggota Parhalado Pusat HKBP. Dan ketika saya memulai kehidupan rumah tangga dengan Loli, beliau pulalah yang memberkati perkawinan kami di HKBP Rawamangun. Ketika itu beliau menjabat sebagai Ephorus HKBP,” ungkap Pdt. Gomar.

Sebagai informasi. Pdt. SAE Nababan pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum DGI pada 1967-1984, Ketua Umum PGI pada 1984-1987, serta Ephorus HKBP pada 1987-1998.

Ia juga terlibat dalam banyak organisasi gereja di tingkat dunia. Seperti, pernah menjabat sebagai Sekretaris Pemuda Dewan Gereja-gereja Asia (1963-1967) dan Presiden dari lembaga yang sama (1990-1995). Juga pernah menjadi Wakil Ketua dari Komite Sentral Dewan Gereja-gereja se-Dunia (1983-1998), Wakil Presiden Federasi Lutheran se-Dunia dan anggota Komite Eksekutif dari lembaga yang sama.

Pdt SAE Nababan juga menjabat sebagai Ketua pertama dari Vereinte Evangelische Mission (United Evangelical Mission), sebuah lembaga misi internasional yang terdiri atas 34 gereja anggota yang tersebar di Afrika, Asia, dan Jerman.

Dalam Sidang Raya ke-9 Dewan Gereja-gereja se-Dunia di Porto Alegre, Brasil pada tahun 2006, Pdt. SAE Nababan terpilih menjadi salah seorang Presiden dari lembaga persekutuan gereja-gereja sedunia itu yang beranggotakan gereja-gereja Protestan dan Ortodoks.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here