Pembukaan Tahun Ignatian, Mengingat Pertobatan Santo Ignatius Loyola

0
Tahun Ignatian
Pembukaan Tahun Ignatian. (Foto: Tangkapan layar)

Yogyakarta – Kamis (20/5/2021), bertempat di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta digelar misa pembukaan Tahun Ignatian dengan tema “Dalam Yesus kita diperbarui dan diutus” yang dipimpin Romo Benedictus Hari Julian, SJ.

“Tahun Ignatian ini memperingati satu peristiwa unik yaitu hancurnya mimpi dan cita-cita seorang pemuda ningrat kampung karena kakinya terkena tembakan peluru meriam. Inigo, pemuda Gipuz Koa itu, terkena tembakan kala mempertahankan benteng Pamplona dari serbuan tentara Perancis,” jelas Romo Julian dalam homilinya seperti dikutip dari kanal Youtube Jesuit Indonesia.

Romo Julian mengatakan hancurnya kaki dan mimpi Inigo menjadi awal bagi bangkitnya Ignatius dan cita-citanya yang baru. Ia kemudian dikenal sebagai pendiri Serikat Jesus dan seorang mistikus agung Gereja. Itulah cannonball moment Inigo. Ambisi dan mimpi gombal Inigo berubah menjadi semangat dan cita-cita merasul Ignatius Loyola.

Baca juga:  Donald Trump dan Joe Biden Terjebak Dalam Politik Agama. Politik Agama Akankah Laku di Amerika?

“500 tahun yang lalu lahir manusia baru yang digerakkan oleh cinta yang berkobar-kobar untuk mengabdi Tuhan. Karena tembakan meriam itulah kita di sini. Karena pertobatan Inigo itulah kita menjadi pengikut Ignatius Loyola, kita para Jesuit, para suster, rekan-rekan awam,” jelasnya.

Romo Julian menegaskan bahwa tahun ignatian bukanlah momen nostalgia atau pamer kesuksesan. Ia mengajak umat selama satu tahun ke depan (hingga 2022) untuk kembali melihat serta mengingat pengalaman-pengalaman yang telah dilewati bersama Tuhan dan merefleksikannya.

“Di awal tadi kita menyaksikan kesaksian Simona dari Bologna, Frater Andre Mantiri yang sekarang tinggal di Jogja, dan Kiki penyintas kekerasan seksual. Masing-masing mengalami perjumpaan dengan Allah yang unik, melalui orang-orang yang tak terduga, tapi juga anggota keluarga sendiri, lewat peristiwa-peristiwa biasa maupun tak biasa, bahkan melalui tragedi. Kita semua punya pengalaman sejenis itu. Bedanya, apakah pengalaman itu telah mengubah kita? Atau berlalu begitu saja sebagai nostalgia? Tahun Ignasian hanya akan bermakna bila ia mengubah kita,” tegasnya.

Baca juga:  Caritas Indonesia akan Fokus pada Pemulihan Korban di NTT

Di sisi lain, Romo Julian menjelaskan tema “Dalam Yesus kita diperbarui dan diutus” memiliki arti bahwa hanya Kristus sumber pembaruan yang dihaharapkan terjadi di tahun ignasian ini.

“Perubahan itu diharapkan terjadi baik secara pribadi maupun dalam komunitas dan karya-karya kita. Universal Apostolic Preferences atau Pilihan Kerasulan Universal telah memberi arah bagi perubahan kolektif ini. Kita semua sudah sangat akrab dengan empat pilihan tersebut: menunjukkan jalan menuju Allah, berjalan bersama mereka yang miskin dan tersingkir, menemani kaum muda, dan merawat bumi sebagai rumah bersama,” paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here