Pendeta yang “Dituduh” Menyumbang Emas Kepada Soeharto Telah Menghadap Sang Pencipta

0

Kabar duka dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) dan dari Gereja-gereja yang tergabung dalam Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). “Telah meninggal dunia Pdt. Dr Sularso Sopater, Ketua Umum PGI pada 1987-2001. Meninggal sore tadi pukul 18.47 karena gagal ginjal dan gangguan jantung,” demikian kabar duka yang dikirim Ketua Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom lewat whatsapp, Jumat (26 Juni 2020) yang diterima vifamedia.

Pdt. Dr. Sularso Sopater

“Saya menilai beliau sebagai seorang Pemimpin yang kebapaan. Beliau menghargai setiap orang sebagai pribadi yang utuh, tidak sungkan untuk menyapa terlebih dahulu, dan selalu siap untuk menolong,”kata Pdt. Gomar Gultom.

Pdt Dr. Solarso Sopater yang lahir 9 Mei 1934 di Yogyakarta ini dikenal banyak orang sebagai sosok yang tidak banyak bicara tetapi lebih banyak berkarya. “Tidak banyak bicara tapi banyak berkarya. Itu sebabnya beliau dijuluki sebagai Nabi Bisu,”demikian kata Pdt. Gomar Gultom.

Pdt. Dr. Sularso Sopater memulai karier kependetaannya di lingkungan GKJ yang ditahbiskan sebagai pendeta pada Maret 1960 di usia 26 tahun. Lalu dipercayakan menjadi Ketua Sinode GKJ, dan terakhir sebagai Ketua Umum PGI selama 3 periode (1987-1989, 1989-1994, dan 1994-1999).

Pdt Dr. Solarso Sopater, juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (DPA RI) periode 1993-2003 dan anggota MPR RI pada 1987, serta pernah menjabat sebagai Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional, Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, Majelis Permusyawaratan Rakyat. Setelah itu pada 13 Agustus 1999 menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden BJ Habibie.

Di tengah goresan prestari dari pemegang gelar Master Teologi di Grand Rapids Michigan AS, 1975, dan Doktor dari STT Jakarta dan pernah juga menjadi Rektor STT Jakarta, ia harus menerima sebuah “tuduhan” yang seakan menghapus semua goresan prestasinya.

BACA JUGA  Komjen Pol Dharma Pongrekun: Kembali ke Gambar Allah

PGI dan Pak Larso Tidak Pernah Menyumbang Emas kepada Rezim Orde Baru, Soeharto. Pada awal 1998, saat itu Indonesia memasuki krisis ekonomi yang akhirnya mengantar Indonesia memasuki pintu orde reformasi.

Awal tahun 1988 itu, terdengar oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, lebih khusus lagi umat Kristiani, dimana Ketua Umum PGI saat itu, Pdt Dr Sularso Sopater, mendatangi rumah presiden Soeharto menyerahkan emas dua kilogram dan uang lima juta rupiah.

Dalam buku biografinya, “NABI BISU” ditulis Suyito Basuki, seperti dilansir dari satuharapan, menuliskan, Pdt Dr Sularso Sopater, yang akrab dipanggilannya, Pak Larso, terungkap bahwa sebenarnya baik PGI ataupun pribadi Pak Larso tidak pernah menyerahkan emas dan uang kepada Soeharto.

Walau begitu Pak Larso tidak membantah menemui Soeharto. Terungkap saat itu, kata Pak Larso kehadirannya melaksanakan tugas gerejawi yaitu mendoakan (berdoa) untuk pemerintah yang saat itu sedang kesulitan karena kurs rupiah anjlok lebih dari 600 persen.

Lalu bagaimana sampai Pak Larso sampai dikatakan memberikan emas dan uang kepada Soeharto? Seperti yang ditulis satu harapan dan juga terungkap dalam wawancara Pak Alex Japalatu kepada Pak Larso, ternyata itu karena trik kamera televisi yang membuat Ketua Umum PGI waktu itu seakan yang menyerahkan uang dan emas kepada Soeharto.
”Betul Bapak menyumbang emas untuk Pak Harto atas nama PGI seperti dipergunjingkan banyak orang?”tanya Alex, demikian isi whatsapp yang diteruskan Pdt. Gomar Gultom yang diterima vifamedia.

BACA JUGA  Pdt. RJ Banoet Tetap Semangat Melayani Meski Hanya Hidup dengan Satu Ginjal

“Saya memang diomongkan sebagai memberi emas bukan kepada bayi Yesus tetapi kepada Herodes. Padahal waktu itu sebagai Ketua PGI saya mendampingi Dirjen Bimas Kristen dan anggota rombongan datang ke Cendana. Tugas saya mendoakan Pak Harto. Usai didoakan, giliran Titus Kurniadi, seorang pengusaha Kristen yang menyorongkan sumbangan berupa emas dan uang. Celakanya, badan Titus tak tampak dalam kamera televisi. Hanya tangannya. Dari potongan gambar tersebut segera tersiar kabar, atau orang mengambil kesimpulan bahwa Pak Larso atas nama PGI bersekutu dengan Soeharto, yang waktu itu sedang dimaki di mana-mana dan diteriaki pemeras rakyat,”ceriteranya.

Akibat dari trik kamera itu, Pak Larso didemo, diminta turun, dicap sebagai orang Majus yang tersesat. “Tetapi beruntung saya bisa jelaskan dengan detail semua peristiwa itu. Saya lega, meskipun masih banyak yang belum terima,” katanya.

Pengurus LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) Dr. Sigit Triyono didepan Alm. Pdt. Prof Dr. Sularso Sopater di RS. Cikini (27/06/2020) -Foto: istimewa.

Bulan April 2016, Pak Larso meluncurkan memoarnya Sularso Sopater, Kukuh di Jalan Ibu. Salah satu bab di dalam buku ini berisi penjelasan Pak Larso tentang peristiwa “sumbang emas” tersebut. Sangat detail. Dalam buku tersebut dan ada nama Wakil Sekum PGI, Pdt. Em. Weinata Sairin sebagai salah satu atau mungkin satu-satunya orang membela Pak Larso “Pak Larso tidak bersalah,”tegas Weinata.

Saat Dr. Sigit Triyono memberikan kata sambutan mewakili LAI. – Foto: istimewa.

Sekarang, sang pengukir prestasi di tengah umat Kristiani ini sudah dipanggil Tuhan. Setelah dirawat selama satu minggu, Jumat (26/6/20), Pdt. Em. Prof. Sularso Sopater meninggal dunia di RS PGI Cikini. di usia 86 tahun dengan meninggalkan tiga anak dan 6 cucu. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here