Penting Bagi Orang Tua, Ini Cara Mendidik Anak yang Benar

0
Mendidik anak
Ilustrasi: Banyak orang tua yang masih salah menerapkan pola didik untuk anaknya. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Ada banyak orang tua yang merasa ketakutan ketika anaknya sudah beranjak dewasa. Bahkan tidak jarang hal tersebut menjadi sumber konflik antara orang tua dan anak.

Praktisi Pendidikan Charlotte Priatna, M.Pd mengatakan banyak orang tua yang secara tidak sadar membangun pola pendidikan yang salah kepada anak-anaknya. Hal ini biasanya baru disadari ketika si anak sudah berusia dewasa.

“Memang kadang sebagai orang tua kita berjuang mati-matian agar anak mendapatkan banyak kemudahan. Tapi kita tidak melihat waktu yang sekarang adalah anugerah. Tapi karena kekhawatiran kita ngotot anak harus begini begitu yang ada akan membuat konflik sama anak (di kemudian hari),” katanya dalam Webinar Serial #6 Letting Go Melepas Anak Keluar dari Sarang, Jumat (19/2/2021).

Dalam acara yang diselenggarakan kerjasama Family Fisrt Indonesia dan Sekolah Athalia, Charlotte menjelaskan orang tua harus mampu membedakan antara anak yang mandiri dan anak yang menarik diri dari orang tua.

“Mandiri cirinya interdepedensi (saling ketergantungan). Hubungan kemandirian adalah bagian dari interdepedensi yang menunjukkan bahwa sesama manusia saling membutuhkan. Tapi bukan maksudnya (orang tua) bergantung kepada anak, melainkan kita dan anak seperti sahabat,” jelasnya.

BACA JUGA  Dr. Michael Wattimena, SE., M.Si Minta Pilkada Serentak 2020, Ditunda 3-6 Bulan Untuk Kepentingan Kesehatan Masyarakat Indonesia

Lebih jauh, Charlotte menjelaskan mandiri yang benar memiliki beberapa ciri yaitu memiliki motivasi yang benar meskipun terkadang cara yang dipakai berbeda dengan pemikiran orang tua, punya keinginan yang bisa dipertanggungjawabkan dan kritis.

“Bila keinginannya yang membuat egonya semakin besar dan ingin memisahkan diri (dari orang tua), maka anak tersebut belum siap untuk mandiri,” kata Charlotte yang juga pendiri Sekolah Athalia ini.

Menurutnya, bagian menegangkan dalam mendidik anak adalah ketika anak sudah beranjak dewasa. Dalam masa ini orang tua diminta untuk mampu lebih bijak menghadapi keputusan yang diambil anak. Sebab banyak orang tua yang tidak siap menerima jalan yang diambil sang anak. “Disitulah kita diminta untuk menyerahkan pada Tuhan. Kenapa? Karena Tujuan orang tua melepaskan anak agar anak bisa semakin berkembang,” tuturnya.

Ia menegaskan orang tua harus ingat bahwa anak memiliki panggilannya sendiri-sendiri. Tugas orang tua adalah mendidik, membimbing dan memberikan semangat. “Orang tua itu ibarat busur yang harus melepaskan anak panah (anak) menuju sasaran yang tepat. Jangan genggam terus anak panah itu,” katanya.

BACA JUGA  Johny Simanjutak,S.H : Pemprov DKI Jakarta harus akui meningginya kenaikan kasus Covid 19

Lanjutnya, orang tua juga jangan pernah menyalahkan anak ketika si anak salah mengambil jalan. Sebab, semua pendidikan berasal dari dalam keluarga. Apa yang terjadi dalam diri anak adalah cerminan dari pendidikan yang diberikan orang tuanya.

“Orang tua harus berdoa untuk anak. Dunia sedang mencengkram anak masuk ke dalam dunia, maka itu kita harus genggam tangan anak kita. Namun suatu hari kita juga harus siap melepas tangan anak kita,” kata penulis buku Learning to Stop ini.

Di sisi lain, Charlotte mengungkapkan ketika si anak akan berkeluarga maka tugas orang tua adalah membimbing sekaligus terbuka soal pernikahan. Salah satunya orang tua harus terbuka kepada anak soal konflik yang pernah dialami supaya si anak tidak “mengulangi” konflik tersebut dikemudian hari. “Pelajaran hidup berkeluarga yang bisa diambil supaya mereka tidak ‘mengulang bab’ tersebut,” ungkapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here