Pentingnya Gereja Memahami Generasi Z

0
Gereja dan generasi Z
Ilustrasi: Para remaja yang sedang mengikuti sebuah acara di gereja. (Foto-foto: Istimewa)

Jakarta – Hasil sensus penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia saat ini lebih banyak berasal dari Generasi Z (Gen Z). Gen Z merupakan mereka yang lahir dalam rentang tahun 1997-2012. Ini artinya, keberadaan Gen Z memiliki peran penting bagi Indonesia ke depan, termasuk gereja.

Dalam webinar yang diadakan Bilangan Research Center (BRC) mengenai “Tantangan zaman dan kondisi Gen Z di Indonesia”, Kamis (15/4/2021) terungkap bahwa Gen Z merupakan generasi yang memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

“Dibutuhkan pendekatan khusus kepada Gen Z. Kita membutuhkan dialog untuk memahami mereka, kemudian libatkan mereka dalam relasi yang setara,” kata Dosen Fakultas Teologi UKDW, Yogyakarta, Pdt. Tabita Kartika Christiani.

Misalnya soal spiritualitas. Pdt. Tabita menjelaskan Gen Z memahami spiritualitas sebagai sesuatu yang bersifat personal. Artinya, bagi Gen Z spiritualitas adalah hal pribadi antara dirinya dengan Tuhan, bukan seperti peratuan keagamaan yang harus dilakukan atau patuhi.

“Misalnya generasi baby boomers yang ketat sekali dengan aturan. Gen Z tidak seperti itu karena mereka menganggap spiritualitas adalah pribadi sehingga mereka punya hak sepenuhnya. (Sifat ini) sebenarnya ini sudah ada di Gen X,” jelasnya.

President Commissioner PT FFS yang aktif dalam dunia pelayanan, Andreas Nawawi mengatakan Gen Z adalah generasi yang haus ilmu pengetahuan. Mereka akan terus mengupgrade ilmu/kemampuannya lewat berbagai acara atau bertanya pada orang yang dianggap lebih senior.

“Di perusahaan kepemimpinannya saat ini sudah banyak yang turun pada generasi ketiga. Tapi di gereja saya lihat hal itu belum terjadi. Meskipun saat ini sepengetahuan saya sudah banyak gereja yang mulai menangani jemaat yang ada di Gen Z,” paparnya.

Baca juga:  Optimalkan Kepemimpinan Antar Generasi dalam Gereja

Andreas menjelaskan, Gen Z senang membangun relasi dengan orang lain. Untuk itu para orang tua, khususnya ayah harus mulai bangun kedekatan dengan anak supaya mereka tidak kehilangan sosok seorang ayah. “Gen Z otak kanannya begitu kuat sehingga relasi mereka kuat. Mereka butuh gathering, keluarga, teman,” kata anggota Badan Pengawas FGBMFI ini.

Di sisi lain, Andreas mengatakan hal konkrit yang harus dilakukan gereja adalah mulai menjangkau kaum pria. Sebab pria merupakan kepala keluarga yang pemimpin. “Mau belajar merendahkan diri, belajar kebutuhan mereka karena belum tentu punya kita lebih baik. Ketika kita mau belajar, bisa saja kita memiliki mustika dari mereka,” katanya dalam sesi tanya jawab.

Menurut Andreas, kuncinya adalah mampu membangun relasi dan setop menyalahkan supaya tidak ada lagi gap antar generasi. “Laki-laki itu sombong, sok tahu, sok pintar, maka itu harus berbicara men to men supaya mengerti apa yang diinginkan anak-anaknya,” tegas Andreas.

Sementara itu masih dalam sesi tanya jawab, Pdt. Tabita menjelaskan Gen Z memiliki perilaku menghormati privasi orang lain. Itu sebabnya Gen Z terlihat cenderung cuek dengan LGBT maupun pernikahan beda agama.

“Jadi seperti itu karena mereka hidup di tengah dunia digital. Hal itu membuat mereka jadi memiliki banyak masukan dan pendapat. Prinsipnya adalah Gen Z terbuka dengan kepelbagaian. Ketika semua orang eksklusif, Gen Z inklusif,” ungkapnya.

Baca juga:  Natal Bersama TNI 2020 secara Virtual : Tuhan Menuntun Kita Bersama Melewati Masa Sulit

Pdt. Tabita juga menyoroti soal kecenderungan Gen Z meninggalkan gereja. Menurutnya, gereja perlu membuka diri dan sama-sama menyelaraskan pemahaman dengan Gen Z. Hal tersebut penting supaya ada titik temu antara keinginan gereja dan Gen Z.

“Dalam penelitian di Amerika Gen Z meninggalkan gereja karena gereja tidak konsekuen dengan ajaran. Gereja mengajarkan kepada semua orang bahwa Allah mengasihi semua orang, Tuhan tidak membeda-bedakan, jangan menghakimi. Tapi realitanya, gereja suka menghakimi, misalnya orientasi seksual dan menolak agama lain. Gen Z seperti itu bukan karena tidak beriman tapi karena mereka melihat gereja tidak konsekuen,” paparnya.

Kedepan, kata Pdt. Tabita mungkin saja wajah gereja akan berubah ketika Gen Z sudah memimpin. Gereja akan menjadi lebih sosial, manusiawi, terbuka dan tidak kaku. “Kita tidak bisa memaksa Gen Z harus bergereja dengan cara zaman opa oma. Dan yang tua ya harus rela, tidak perlu khawatir dengan masa depan gereja karena yakin bahwa Yesus tetap akan menjadi kepala gereja,” tuturnya.

Sementara itu, Pembina BRC Pdt. Dhojan Handojo menambahkan para pemimpin gereja harus mau membuka wawasan untuk tahu karakteristik Gen Z. Hal itu penting supaya para pemimpin gereja tahu bagaimana caranya mengembangkan potensi Gen Z.

“(Di luar semua itu) hal yang paling mendasar adalah firman Tuhan (karena) Alkitab merupakan SOP yang harus kita ikuti dengan sungguh-sungguh,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here