Pentingnya Membangun Dialog Antar Agama yang Konstruktif

0
Pimpinan umat beragama
Ilustrasi: Pimpinan umat beragama bersatu. (Foto: dok tabloidmitra.com)

Jakarta – Agama yang seharusnya pembawa damai seringkali justru menjadi sumber konflik. Sekelompok orang sering menggunakan agama sebagai “senjata” untuk kepentingan tertentu. Dibutuhkan dialog antar agama agar hal-hal semacam itu bisa diminimalisir.

Universitas Kristen Indonesia (UKI) lewat Fisipol dan BPEA MKU UKI menggelar webinar dengan tema “Membangun dialog antar agama yang konstrutif: Perpektif Indonesia & USA” Senin (8/3/2021). Hadir sebagai pembicara Direktur/Imam of Jamaica Muslim Centre, USA, Dr. Muhammad Shamsi Ali, Sekum PGI Pdt. Jacklevyn F Manuputty, Ketum MUKI Djasarmen Purba, Pengamat Radikalisme dan Teroris Angel Damayanti dan Kaprodi S3 Program Studi Doktor Pendidikan Agama UKI Dr. Demsy A Jura.

Shamsi Ali dalam pemaparannya mengatakan dialog antar agama penting untuk terus diagungkan karena dialog dapat membuka pikiran serta wawasan tentang sebuah pemahaman. “Kalau seandainya agama ingin kita peras, agama itu ya pada karakter bukan soal ibadah. Bagaimana kita ekspresikan agama untuk sesama lewat tindakan yang baik,” ungkapnya.

Lebih jauh, dialog juga menjadi tempat orang untuk terus belajar mengenal sesama. Semakin sering maka semakin baik juga dampaknya. “Dialog bukan untuk memindahkan keyakinan seseorang tapi untuk saling memahami (kerjasama). Dalam dialog juga dibutuhkan keujuran dan keadilan, misalnya soal konsep moderasi beragama. Bangun konsep dalam keadilan bukan kepentingan individu,” paparnya.

Baca juga:  Presiden Mengutuk Tindakan Biadab, Lembaga Kristen Meminta Tangkap Pelakunya dan Hukum Seberat-beratnya

Sekum PGI Pdt. Jacklevyn F Manuputty menjelaskan dialog antar agama tidak harus melulu membahas soal doktrin. “Kuncinya dalam dialog di akar rumput adalah bagaimana membangun kepercayaan dan melihat kepercayaan antar klaster. Tugas kita itu dulu, setelah itu baru bisa kita membicarakan isu yang sensitif pada situasi yang damai,” ungkapnya.

Pendeta yang akrab disapa Pdt. Jacky ini mengatakan pendekatan dialog yang harus dipahami adalah perbanyak pada kegiatan yang bisa dilakukan bersama. Dengan begitu tujuan dari dialog untuk menciptakan damai dan kebersamaan antar komunitas bisa direalisasikan.

“Dalam sebuah program saya pernah mengajak pendeta, ustad mengenai sebuah topik tapi bukan dimulai dengan agama. Kita minta mereka mengomentari (topik), ketika di ujung percakapan baru ditanya bagaiamana pandangannya dari sudut pandang agama masing-masing,” katanya memberikan contoh.

Baca juga:  Rayakan ThanksGiving 2020: Menjadi Trend untuk mengucap syukur kepada Tuhan dan Keluarga.

Lebih jauh, kunci dari keberhasilan sebuah dialog adalah adanya kepercayaan antar kelompok. Menurutnya, ini yang menjadi tantangan karena kehidupan saat ini begitu terbuka dan rawan terjadinya sebuah konflik, terutama konflik identitas. “Agama adalah identitas layer terakhir setelah layer lain sudah dihancurkan. Makannya di mana-mana politisasi identitas berkembang,” tuturnya.

Ketum MUKI Djasarmen Purba dalam pemaparannya menjelaskan dialog bisa terjadi bisa pemeluk agama memiliki sifat inklusif. Dialog yang dikembangkan juga harus bersifat antropologis. Dalam kesempatan itu Djasarmen juga menceritakan berbagai kegiatan MUKI terkait membangun hubungan antar agama. “Selain dialog dibutuhkan adanya kerjasama,” katanya.

Sementara itu, Angel Damayanti mengatakan para akademisi juga perlu ikut dalam membangun hubungan antar umat beragama. Caranya dengan membangun persepsi yang tepat, membangun rasa saling percaya dan melalui pendekatan ekonomi, sosial serta budaya.

Di sisi lain, Dr. Demsy A Jura menjelaskan dialog antar umat beragama yang konstruktif dapat terwujud bila masing-masing pihak (umat) dapat memahami (menghormati dan menghargai) dengan baik dirinya dan orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here