Pentingnya Mengelola Konflik Rumah Tangga Secara Konstruktif

0
Ilustrasi: Penanganan konflik yang tepat perlu diketahui para pasangan suami istri. (Foto-foto: Istimewa)

Jakarta – Rumah tangga selalu penuh dengan dinamika, untuk itu tidak ada rumah tangga yang sepenuhnya bebas dari pertengkaran. Menurut pengurus pusat ikatan psikologi klinis Indonesia, Anna Surti Ariana masalah di rumah tangga biasanya dipicu dari 3 hal yaitu uang, komunikasi dan seks.

“Ketiga hal ini bisa dibilang ‘pilar’ dalam rumah tangga. Ketika ketiga hal ini bermasalah, seringkali ada masalah lain yang ikut terjadi. Walaupun tidak terbatas dalam 3 hal ini saja sebenarnya,” ungkap Anna dalam webinar K-Talks “Merawat Keharmonisan dan Keutuhan Keluarga”, Selasa (6/4/2021).

Sebagai informasi. K-Talks adalah sebuah acara bincang-bincang yang diadakan secara daring dan merupakan kerjasama antara PGI dan Ikatan Profesi Pastoral Indonesia (IPPI).

Baca juga:  Natal GBI VIFA “Mujizat Natal”, Ps Debby Basjir: Tuhan Datang Bereskan Dosa

Kembali ke pembahasan. Anna menjelaskan ketika terjadi sebuah masalah dalam rumah tangga ada beragam tipe pasangan dalam menghadapinya, seperti menghindar, beradu argumen destruktif dan beradu argumen konstruktif.

“Bila menghindar maka dipastikan masalah tidak akan selesai karena efeknya hanya akan mendinginkan hubungan, menjauhkan pasangan, menjadikan satu sama lain tidak percaya dan mengurangi keintiman,” jelasnya.

Lebih jauh, beradu argumen destruktif juga tidak baik karena akan menimbulkan konflik baru diantara pasangan. “Destruktif biasanya membuat topik melebar ke isu lain, menyerang pasangan (pribadi), banyak kata kasar dan penuh kecurigaan,” paparnya.

Menurut Anna hal yang paling baik dilakukan adalah beradu argumen konstruktif. Konstruktif berarti fokus pada masalah yang dibicarakan, mau mendengarkan dan diakhiri dengan kesepakatan atau solusi.

Baca juga:  Hamba Tuhan Meninggal Karena Terpapar Covid-19?

“Efek dari konstruktif adalah meminimalkan emosi negatif, meningkatkan rasa percaya, mendekatkan pasangan dan lebih memahami pasangan,” kata Anna.

Alumni UI ini pun membagikan data mengenai perceraian, di mana pada bulan Maret 2020-2021 ada 5.709 pasangan yang bercerai. Hal tersebut, kata Anna harus menjadi peringatan bagi setiap pasangan agar mampu membangun komunikasi yang baik dalam rumah tangga.

Menurutnya, pandemi jangan dijadikan persoalan utama tapi yang penting adalah bagaimana kerjasama diantara pasangan dapat senantiasa tercipta. “Bila ada permasalahan dalam perkawinan, lakukan konseling pernikahan untuk memperbaikinya,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here