Pentingnya Protokol SEMAI dari Wahid Institute untuk Cegah Intoleransi di Sekolah

0
Pembelajaran di sekolah
Ilustrasi: Kegiatan belajar mengajar di sekolah. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Wahid Institute menaruh perhatian penuh agar terciptanya toleransi di sekolah lewat Protokol SEMAI (Sekolah Merdeka Intoleransi). Hal tersebut diungkapkan peneliti Wahid Institute, Alamsyah M Djafar.

“Protokol SEMAI merupakan hasil kebijakan yang dikeluarkan Wahid Foundation melalui berbagai proses diskusi (lebih dari 3-4 kali diskusi yang melibatkan orang tua, Kemendikbud, praktisi pendidikan, KPAI, Kemensos). Rekomendasi ini merupakan hasil refleksi Wahid Foundation terkait dengan pengalaman dalam mengembangkan Sekolah DAMAI (tahun 2017-2021),” ungkap Alamsyah dalam diskusi publik sekolah merdeka intoleransi: protokol pencegahan intoleransi di sekolah, seperti dikutip, Rabu (31/3/2021).

Alamsyah menjelaskan, protokol SEMAI berisi gagasan dan konsep praktis mekanisme pelaporan sebagai salah satu strategi mencegah intoleransi di sekolah negeri.

Baca juga:  BUKU RENUNGAN ANTAR INDONESIA RAIH EMAS OLIMPIADE

“Protokol ini tidak hanya dimaksudkan sebagai saluran pelaporan, ketika peristiwa terjadi, tapi juga sebagai konsultasi berbagai pihak pemangku kepentingan dalam membicarakan toleransi dan intoleransi,” jelasnya.

Menurutnya, pilihan kebijakan protokol pencegahan berangkat dari asumsi bahwa efektivitas implementasi protokol dapat mengurangi kasus intoleransi dan berkontribusi membangun budaya toleransi di sekolah. 

“Protokol ini lebih banyak pendekatan pencegahan dari pada penindakan,” tegasnya.

Intoleransi, lanjut Alamsyah berbicara soal sikap dan tindakan; hak-hak dasar yang dijamin Pancasila dan UUD 1945; kelompok berbeda dan tidak disukai; identitas yang dilindungi (agama, etnis, status sosial dsb); menghalangi, melawan atau menyangkal. 

Baca juga:  Pesan Natal PGLII Tahun 2020 Ditengah Pandemi Covid-19

“Intoleransi sering dalam bentuk tindakan non kekerasan. Intoleransi tidak selalu sama dengan radikalisme atau ekstremisme kekerasan, artinya orang yang melalukan intoleransi tidak selalu radikal  atau ekstrem. Bila radikalisme atau ekstrem biasanya tindak kekerasan yang dilakukan dengan motif ideologi,” ungkapnya. 

Wahid Institute, kata Alamsyah sedang mendorong Protokol SEMAI bisa masuk dalam peraturan sekolah. “Di beberapa kampus di beberapa negara, kami menemukan protokol intoleransi sudah masuk dana tatib kampus,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here