Peringati Bulan Pelkes, Ini Seruan Sinode GPIB

0
Logo GPIB

Jakarta – Setiap bulan Juni, Sinode Gereja Protestan Indonesia di Indonesia bagian Barat (GPIB) memperingatinya sebagai bulan Pelayanan dan Kesaksian (Pelkes).

Ketua I Majelis Sinode GPIB, Pdt. Marthen Laiwakabessy mengajak gereja lebih pro aktif dalam melakukan pelayanan pada jemaat maupun masyarakat.

Pdt. Marthen menjelaskan GPIB sendiri telah mengambil bagian itu dengan bekerjasama dengan Kemenkes RI beberapa waktu lalu melakukan vaksinasi bagi lansia, tokoh agama dan pelayanan gereja.

“Ini tentunya memunculkan kepercayaan agar vaksinasi covid dapat diterima oleh seluruh warga Indonesia, khususnya warga GPIB,” kata Pdt. Marthen yang dikutip dari kanal Youtube Sinode GPIB, Senin (7/6/2021).

GPIB, kata Pdt. Marthen terus mendampingi para jemaat yang terdampak akibat pandemi. Dimulai dengan terus mendoakan hingga memberikan bantuan ekonomi. Ini dilakukan untuk menumbuhkan semangat di hati jemaat bahwa Tuhan tidak pernah tidur dan akan selalu ada.

Baca juga:  KWI dan PGI Mengimbau Warga Gereja Memasuki Fase New Normal

“Bantuan dan pendampingan yang diberikan kepada warga jemaat dan masyarakat kiranya bisa menjadi motivasi dan semangat pengharapan bahwa Tuhan terus memelihara kita semua,” jelasnya.

Sekretaris I Majelis Sinode GPIB, Pdt. Elly D Pitoy-De Bell bersyukur di tengah situasi pandemi GPIB bisa terus ada. Hal ini menandakan bahwa Tuhan terus menyertai dan memelihara setiap umat-Nya.

“Sekalipun masih berada dalam suasana pandemi Covid-19 dalam iman kita percaya bahwa berkat penyertaanNya dan pemeliharaanNya masih kita rasakan sampai saat ini. Kita tidak bisa hindari yang telah menimbulkan kecemasan, khawatir bahkan ketakutan bagi seluruh manusia termasuk warga GPIB,” ungkapnya.

Menurutnya, pandemi akan terus ada untuk itu warga GPIB harus dapat menyesuaikan dengan tata cara hidup di era yang baru dengan terus menerapkan protokol kesehatan.

Selain itu, dalam pelayanan juga mengalami banyak penyesuaian. Di mana saat ini berbagai pelayanan dialihkan secara online untuk dapat mengakomodir jemaat. Jemaat juga harus memiliki pemikiran eklesiologi yang baru agar dapat memahami berbagai sakramen (pelayanan) yang selama ini dilakukan secara onsite, misalnya pelayanan perjamuan kudus dan baptisan.

Baca juga:  Cerita Pandemi di Negeri Orang

Sementara itu, Ketua Departemen Pelkes GPIB, Pdt. Katte Fonne Barahama-Pattipeilohy melihat pandemi sebagai sebuah pengalaman baru yang membuat orang menjadi kreatif.

“Pandemi ini mengajarkan kepada kita kreatif untuk tetap survive menemukan solusi pelayanan yang utama khususnya kepada mereka yang selama ini belum tersentu pelayanan. Misalnya, saudara-saudara kita yang ada di Pos-pos Palayanan dan Kesaksian. Marilah kita membantu memasarkan hasil-hasil pertanian jemaat baik di gereja sendiri maupun di Mupel,” paparnya.

Pdt. Katte mengungkapkan dalam bulan Pelkes tahun ini, GPIB akan mengadakan pelatihan kepada para jemaat untuk pengembangan potensi diri. Hal tersebut dilakukan melalui diskusi, pembinaan hingga pelatihan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here