Peringati Hari Kartini, Ini Pesan Pegiat dan Wanita Penyandang Difabel

0
Wanita difabel
Ilustrasi: Wanita difabel. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Setiap tanggal 21 April selalu diperingati sebagai hari Kartini. Hari Kartini identik dengan emansipasi wanita. Wanita yang dimaksud adalah untuk semua wanita, termasuk wanita difabel. Maka dari itu, wanita sekalipun mereka difabel juga harus dipandang sama dan tidak direndahkan.

Kira-kira itulah pesan yang disampaikan dalam Webinar “Pejuang dalam Keterbatasan, Disabilitas bukan Hambatan” yang diselenggarakan oleh Kelompok Muda ASRI, Rabu (21/4/2021).

Turut hadir, staf khusus Kemenkominfo, Rosarita Niken; Ketua Yayasan Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo, Penerima Australia Awards Scholarship, Luluk Ariyantiny dan wirausaha penyandang difabel, Christina Santoso. Sedangkan moderator dipandu oleh Mathilda AMW Birowo.

Menjadi narasumber pertama, Niken menjelaskan bahwa manfaat teknologi digital harus bisa dinikmati semua orang, termasuk kaum difabel. Ia pun menjelaskan tentang 5 langkah pemerintah dalam percepatan transformasi digital yang disampaikan Presiden Jokowi dalam rapat kabinet, 3 Agustus 2020.

Baca juga:  Pdt. Gilbert Lumoindong Ajak Umat Doakan Keluarga Pengacara Hotma dan Desiree

Pertama, mempercepat penyediaan akses internet, dengan mempercepat pembangunan infrastruktur. Kedua, membangun grand desain digital. Ketiga, pembangunan pusat data nasional. Keempat, membangun SDM digital talent. Kelima, regulasi.

“Pemerintah sangat serius mempersiapkan teknologi digital. Kemenkominfo mendukung lebih banyak forum publik dan kanal yang melibatkan kalangan difabel secara aktif,” katanya.

Niken menambahkan kaum difabel di Indonesia sejatinya sudah dilindungi secara UU 8 tahun 2016 juga negara telah memiliki Komisi Nasional Disabilitas.

Luluk dalam pemaparannya menjelaskan tentang perjuangan yayasan yang ia kelola untuk kaum difabel di Situbondo. Menurutnya, apa yang dilakukan bisa berhasil karena didukung pemerintah daerah setempat.

Sementara itu, Christina Santoso memberikan pengalamannya sebagai kaum difabel. Christina mengatakan dukungan keluarga dan lingkungan dibutuhkan bagi para kaum difabel.

“Saya penyandang osteogenesis imperfecta (OI) sejak lahir. Itu adalah penyakit karena faktor genetik sehingga menyebabkan tulang mudah rapuh sehingga mudah patah. Penyakit ini bisa menyerang banyak organ tubuh dan yang saya alami menyerang kedua kaki. Saya bersyukur orang tua tidak pernah menganggap saya berbeda, tapi spesial,” ungkapnya.

Baca juga:  GANTARI NUSA Dukung Program Jokowi dan Kemenparekraf

Lebih jauh, semangat yang diberikan keluarga membuat dirinya tetap semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari sekalipun harus selalu menggunakan kursi roda. Hal tersebut memampukannya menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat S1 di UPH.

Selain itu dalam pekerjaan, Nina aktif dalam usaha kuliner, wedding organizer dan menyanyi di berbagai acara. “Saya ingin membuktikan kaum disabilitas bukan kaum yang harus dikasihani,” tegasnya.

Nina berharap, kaum difabel tidak lagi dipandang sebelah mata. Sebab banyak kaum difabel yang memiliki talenta yang besar. “Berharap semakin banyak lowongan pekerjaan untuk kaum disabilitas dan lebih banyak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan yang (sekiranya) mereka mampu,” harapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here