Perkawinan Anak Berbahaya, PGI Minta Gereja Peduli

0
Perwamki Anak
Ilustrasi : Perkawinan anak

Jakarta – Di Indonesia perkawinan anak angkanya masih cukup tinggi. Hal ini terlihat dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2018 bahwa 1 dari 9 anak perempuan (usia 20-24 tahun) dan 1 dari 100 anak laki-laki (usia 20-24 tahun) menikah sebelum 18 tahun.

“Penurunan persentase perkawinan di bawah 18 dan di bawah 15 tahun cenderung lambat dalam 10 tahun. Apabila penurunan ini tidak dipercepat, akan sulit bagi Indonesia mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan target RPJMN 2020-2024,” ungkap Derry Fahrizal, Child Protection Officer-Social Norms UNICEF dalam Webinar PGI “Mengapa Kita Menolak Perwakinan Anak?”, Jumat (26/2/2021).

Derry menjelaskan ada beragam dampak buruk dalam perkawinan anak seperti rentan mengalami KDRT, kemiskinan, pendidikan yang terputus hingga persoalan kesahatan baik bagi sang ibu maupun anak yang dilahirkan. “Bila dilihat dari daerah paling tinggi terjadi di Sulawesi Barat, sedangkan angka absolut paling tinggi terjadi di Jawa Barat,” jelasnya.

Masih berdasarkan SUSENAS 2018, anak yang tinggal di desa dua kali lebih mungkin menikah sebelum usia 18 tahun. Kemudian anak yang tinggal di keluarga miskin. “Penyebabnya karena minimnya pengetahuan serta akses yang kurang pada HKSR, ketidaksetaraan gender dan situasi darurat atau bencana,” katanya.

Baca juga:  Komisi PBB Memutuskan Ganja Bukan Lagi Adiktif Berbahaya. Setuju?

Derry meminta para pimpinan gereja juga ikut ambil bagian dalam sosialiasi bahayanya perkawinan anak, khususnya yang berada di daerah. Sebab perwakinan anak adalah sebuah eksploitasi, kekerasan terhadap anak dan pelanggaran hak anak.

Khotimun, Ketua Bidang Kemasyarakatan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah menyoroti tentang lemahnya dispensasi dalam perkawinan. Ia memberikan contoh bahwa di NTB selama di pandemi dispensasi perkawainan meningkat hingga 100%.

“Meskipun batas usia sudah naik menjadi 19 tahun melalui UU No. 16 tahun 2019, Perma 5 tahun 2019, tapi dispensasi nikah masih mudah diberikan. Lemahnya upaya pencegahan. Juga lemahnya hukum terhadap nikah siri meskipun secara agama diperbolehkan. Misalnya di Pasuruan, anak-anak menjadi korban nikah siri dan kawin kontrak,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) PGI Pdt. Gomar Gultom menjelaskan secara aturan hukum pemenuhan hak dan perlindungan anak sebenarnya sudah cukup memadai.

“Sejak tahun 2000 sebenarnya hak anak sudah masuk dalam konstitusi melalui amandemen kedua (18 Agustus 2000). Intinya Indonesia sudah memiliki payung hukum untuk perlindungan hak anak,” tegasnya.

Tapi praktinya, lanjut Pdt. Gomar masih lemah. Juga dikapangan pimpinan gereja masih yang belum mengetahuinya. “Pengalaman saya ketika masih sekretaris eksekutif PGI, saya melihat banyak pimpinan gereja yang belum mengetahui soal isi konvensi hak anak,” ceritanya.

Baca juga:  Natal MUKI DPW DKI Jakarta : "Kerjakanlah Selagi Hari Masih Siang"

Pdt. Gomar mengajak gereja untuk konsen terhadap perkawinan anak. Khususnya gereja-gereja yang ada di daerah praktik perkawinan anak yang tinggi.

“Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk melindungi kepentingan terbaik anak. Untuk itu gereja dan seluruh komponen bangsa harus melindungi kepentingan terbaik anak. Anak memang dilahirkan oleh ibu dan satu keluarga, tapi anak bukan hak milik yang bisa diperlakukan seperti properti,” terangnya.

“Perkawinan anak membuat anak ‘dipaksa’ menjadi besar. Efeknya, perkawinan anak merenggut masa tumbuh kembang yang semestinya difasilitasi bahkan dilindungi, kehilangan masa depan (putus sekolah, pupusnya cita-cita), dipaksa menyesuaikan tubuh dan jiwanya melebihi kepatutan umurnya, akan melahirkan generasi yang terdegradasi,” tambah Pdt. Gomar menjelaskan efek perkawinan anak.

Pdt. Gomar menegaskan bahwa anak memiliki jiwa yang tidak bisa dimasuki oleh siapapun. Anak merupakan gambaran Allah yang memiliki keunikannya tersendiri.” Beri kesempatan mereka bermain dan jangan dikandangkan menjadi ibu rumah tangga,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here