Pesan HUT ke-13 GKJ Pamulang, Miliki Pengharapan pada Tuhan

0
Simbolis penanaman tanaman saat peresmian lahan parkir

Minggu (26/7/2020) Gereja Kristen Jawa (GKJ) Pamulang merayakan HUT yang ke-13. Namun tidak berbeda dengan sebelumnya, kali ini HUT dirayakan sangat sederhana dikarenakan pandemi Covid-19.

Dalam ibadah yang mengambil tema “Digebug Pageblug, Aku Ora Ambuk” firman Tuhan dilayani Pdt. Yoshua BPH bersama Faisha Sudarlin yang disampaikan dengan cara berdialog. Dalam ibadah ini juga digelar Perjamuan Kudus.

Dalam firman Tuhan, Pdt. Yoshua mengatakan ada banyak orang yang ragu apakah bisa bertahan atau tidak dimasa pandemi yang sudah berlangsung sejak bulan Maret 2020 lalu. “Kehidupan memang sering melemparkan begitu banyak pertanyaan yang tak punya jawaban atau kita belum menemukan jawabannya. Seakan sebuah misteri kehidupan yang perlu kita songsong bersama,” katanya dalam ibadah HUT yang disiarkan secara live streaming melalui Youtube Channel GKJ Pamulang.

Pdt. Yoshua (kanan) dan Faisha (kiri) ketika khotbah 1

Tuhan, lanjut Pdt. Yoshua seperti seorang penulis yang menulis dengan pendekatan open-ended yaitu menulis banyak kisah tapi tidak menyelesaikan kisahnya. Hal tersebut sengaja dilakukan supaya pembaca sendiri yang berimajinasi tentang apa akhir kisah yang sedang dituliskan.

BACA JUGA  Presiden Jokowi dan Pdt. Gomar Gultom Buka Sidang MPL – PGI 2021

Pandemi memang bisa saja destruktif, tapi tetap harus produktif dan konstruktif dalam kehidupan. “Berdamai dengan ketidaktahuan memang tidak mudah. Tapi kecerdasan mental semacam ini perlu dan senantiasa perlu dimiliki terutama dimasa pandemi. Ada begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan bisa membuat kita berhenti pada satu titik yaitu berpusat pada pertanyaan bukan tindakan,” jelasnya.

Pdt. Yoshua menegaskan suka tidak suka, mau tidak mau, manusia memang harus menggantungkan hidupnya dalam Tuhan untuk tetap bisa kuat menjalani kehidupan ini. “Berdamai dengan ketidaktahuan juga berarti kita sedang merayakan apa yang akan datang. Jadi merayakan apa yang belum datang perlu menjadi corak agar kita tidak merasa kekurangan, kelemahan. Kita percaya yang akan datang itu yang akan memulihkan kehidupan kita,” katanya.

Sementara itu, Faisha menambahkan secara naluri manusia memiliki kemampuan untuk melewati tantangan dan situasi yang sulit sekalipun. Naluri itu disebut dengan resiliensi. Dalam sebuah penelitian, resiliensi tidak hanya membuat manusia mampu bangkit tetapi juga mampu bertumbuh. “Setiap pengalaman-pengalaman sulit itu menambah otot bagi jiwa,” ungkapnya dan menjelaskan faktor pembentuk resiliensi adalah hubungan baik dengan teman, keluarga serta Allah.

BACA JUGA  HARUS TEGAS ! WNA DILARANG MASUK INDONESIA DI MASA PPKM

Di akhir khotbahnya, Pdt. Yoshua berpesan agar umat senantiasa semangat dan memiliki pengharapan pada Tuhan supaya siap menyambut anugerah-Nya. “Kita adalah manusia yang ringkih, namun kita (dapat) menampung harta yang begitu melimpah. Dan kiranya itu yang membuat kita terus berjuang di tengah-tengah dunia,” pesannya.

Usai firman Tuhan, ada video peresmian lahan parkir GKJ Pamulang yang telah dilakukan Minggu 19 Juli 2020 lalu. Peresmian itu ditandai dengan penanaman tanaman oleh Pdt. Yoshua, Wakil Ketua Majelis Murgito, Ketua RJP JE Mujiono, dan Ketua PHBK 1 Immanuel Parera. Juga hadiri perwakilan majelis dari 5 wilayah pelayanan GKJ Pamulang.

“Menanam sebagai simbol untuk iman kita boleh bertumbuh. Mari kita doakan dan usahakan kita bisa (selalu) menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dalam persekutuan dan keluarga besar GKJ Pamulang. Bertumbuhlah GKJ Pamulang,” harapan Pdt. Yoshua. (Kontributor: LN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here