PGI Meminta Presiden Jokowi Menahan Pemberlakuan UU Cipta Kerja

0

Aksi unjuk rasa atau demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja terus berlanjut. Padahal pemerintah lewat presiden Jokowi, telah memberikan keterangan UU Omnibus Law itu bertujuan menyediakan lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya.

“Jadi Undang-Undang Cipta Kerja bertujuan untuk menyediakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi para pencari kerja serta para pengangguran,” ujar Jokowi dalam keterangan pers melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Jumat (9/10/2020).

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), lewat Humas, Philip Situmorang, mengeluarkan siaran pers, dengan judul besar “Respon akan Penetapan RUU Omnibus Law Cipta Kerja menjadi UU Cipta Kerja.

Siaran pers itu dimulai dengan PGI menjelaskan mengikuti dengan prihatin gejala sosial yang ditimbulkan oleh proses penetapan RUU Omnibus Law menjadi UU Cipta Kerja, dan merasa perlu menyampaikan sikap

PGI dalam siaran pers ini membagi beberapa point, pertama, PGI mengapresiasi niat baik pemerintah dan DPR untuk melakukan sinkronisasi dan penyederhanaan berbagai produk undang-undang yang tumpang tindih regulasinya bahkan tak jarang bertentangan satu sama lain melalui penetapan Undang-Undang Cipta Kerja.

Kedua, PGI mengamati dan menyimpulkan bahwa proses pembahasan RUU Omnibus Law ini, hingga penetapannya menjadi Undang-undang Cipta Kerja, dilakukan dalam situasi yang tidak tepat, mengingat energi bangsa ini sementara terkuras untuk mengelola Pandemi Covid-19 beserta semua dampaknya. Situasi berat seperti ini berdampak pada melemahnya partisipasi masyarakat untuk mengawal proses perumusan dan penetapan produk undang-undang yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup masyarakat. Berkembangnya gelombang protes hingga penolakan menjadi bukti bahwa terhadap produk undang-undang yang sangat sensitif bagi keberlangsungan hidup banyak orang ini, proses partisipatif tidak berlangsung baik selama perumusan dan penetapannya sehingga mencederai pemenuhan rasa keadilan bersama.

Baca juga:  Waspadai Virus Flu Babi Yang Penularannya Mirip Covid-19

Ketiga, PGI mempelajari berkembangnya perdebatan dan penolakan terhadap produk Undang-Undang Cipta Kerja yang mengarah pada aksi-aksi kekerasan yang anarkis di dalam berbagai kelompok masyarakat. Sungguh miris bahwa di dalam polemik ini masing-masing kelompok bersitegang mempertahankan pandangannya berdasarkan tafsir yang berbeda terhadap sebaran dokumen RUU Omnibus Law dan UU Cipta Kerja yang beragam versinya.

Keempat, PGI mencermati dan mengecam aksi anarkis melalui demonstrasi yang berujung pada kekerasan dan pengrusakan. Kondisi ini bisa berdampak pada melemahnya solidaritas sosial dan terjadinya proses delegitimasi pemerintah di tengah situasi di mana bangsa ini membutuhkan penguatan integrasi nasional untuk menghadapi dampak Pandemi Covid-19.

Baca juga:  UIE “Ikat” Tali Persaudaraan Yahudi, Kristen dan Islam dengan Mendirikan Rumah Abrahamik

Kelima, mengkalkulasi semua situasi yang berkembang, PGI meminta Presiden Jokowi untuk menahan pemberlakuan UU Cipta Kerja ini guna meneduhkan suasana kebangsaan yang memanas, serta membuka dialog kebangsaan dengan berbagai tokoh bangsa, maupun segmen-segmen masyarakat yang sungguh terimbas oleh implementasi UU Cipta Kerja ini.

Keenam, kepada masyarakat luas PGI mendukung semua ekspresi demokrasi dalam penyampaian pandangan dan keberatan yang mendukung maupun menolak pemberlakukan Undang-Undang Cipta Kerja ini. Kami percaya bahwa semua ekspresi ini dilandasi oleh sikap cinta pada negeri ini, dan olehnya setiap tindakan kekerasan dan anarkis dalam penyampaian pandangan patut dikecam dan ditolak. Kami sungguh berharap pemerintah dan DPR bisa membuka diri dalam dialog kebangsaan, sebaiknya masyarakat menyalurkan aspirasinya berdasarkan hal konstitusi yang dijamin negara ini bagi semua warganya.
Demikian siaran pers yang dikeluarkan oleh PGI, Jumat, (9 Oktober 2020), dan ditandatangani HUMAS PGI, Philip Situmorang. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here