PGI Mengajak Warga Gereja untuk Membantu Korban Bencana NTT

0
Ilustrasi : Bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, ada banjir, tanah longsor dan jembatan penghubung masyarakat putus (Foto : Jepretan layar Youtube)

Jakarta – Kembali masyarakat Indonesia mengalami bencana, khususnya masyarakat yang ada di Nusa Tenggara Timur. Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986).

Bank Dunia atau World Bank telah memasukkan Indonesia menjadi satu dari 35 negara di dunia yang memiliki risiko tinggi bencana. Alasan Indonesia masuk dikarenakan, banyak fakta menunjukkan tidak ada satu pun tempat di Indonesia yang bebas bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan lahan, dan hidrometeorologi (banjir, banjir bandang, tanah longsor, puting beliung). Oleh sebab itu kesiapsiagaan bencana menjadi kunci utama.

Presiden Ir. Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia memiliki ranking tertinggi rawan bencana karena memiliki jumlah penduduk yang besar. Sehingga risiko jumlah korban jiwa semakin besar.

“Kita sekali lagi menduduki ranking tertinggi bencana, karena jumlah penduduk kita besar, sehingga risiko jumlah korban yang terjadi apabila ada bencana juga besar,” kata Jokowi saat memberikan arahan Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta.

Baca juga:  Bishop TD Jakes : Gunakan Gereja dan Kelompok Keagamaan untuk Mendorong Orang Afrika-Amerika Menggunakan Vaksin COVID

Presiden Jokowi, Senin, 5 April 2021, telah memerintahkan jajaran terkait untuk segera melakukan penanganan terhadap bencana banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan memastikan hadirnya pelayanan kesehatan dan ketersediaan logistik yang baik di lapangan serta memenuhi kebutuhan dasar bagi para pengungsi.

Adanya bencana yang dialami masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) mengeluarkan siaran Pers, Senin (5 April 2021) yang dikirim Humas PGI Philip Situmorang, kepada Vifamedia.

Isi dari siaran Pers PGI, dibuka dengan meminta dukungan doa dan daya untuk membantu korban Bencana di NTT.

Bersamaan dengan itu, PGI menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah di NTT, pada Minggu (4/4).

Tulis dalam siaran Pers itu, NTT mengalami bencana alam, seperti angin kencang, longsor dan banjir yang terjadi telah memporak-porandakan ratusan rumah warga, merusak fasilitas umum termasuk rumah sakit, jembatan dan bendungan hingga menelan korban jiwa, korban luka-luka serta warga yang mengungsi.

Baca juga:  Caritas Indonesia akan Fokus pada Pemulihan Korban di NTT

PGI mengungkapkan belarasa terhadap keluarga-keluarga yang terdampak, serta duka mendalam atas korban jiwa dan ribuan warga yang mengungsi. PGI terus mencermati perkembangan situasi terkini dan mendukung dalam doa kerja tim reaksi cepat untuk mencari korban yang masih belum ditemukan di wilayah-wilayah terdampak.

Guna menyikapi bencana ini, MPH-PGI menyampaikan beberapa imbauan. Pertama, agar gereja-gereja membawakan dalam doa dan membantu para korban sebagai wujud kepedulian bagi sesama;

Kedua, secara khusus PGI mendorong gereja-gereja di Indonesia untuk mendukukung upaya tanggap darurat bersama gereja-gereja di NTT (GMIT dan GKS). Dukungan tenaga relawan terlatih maupun dukungan bantuan darurat bagi para korban, kelompok rentan dan para pengungsi;

Tiga, MPH-PGI meminta perhatian pemerintah pusat dan pemerintah daerah, khususnya BNPB, untuk meningkatkan bantuan pagi warga terdampak, serta secepatnya merekonstruksi kerusakan-kerusakan yang terjadi;

Empat, mengimbau agar masyarakat terus meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena alam yang anomali, sambil terus memperhatikan informasi dari BMKG dan pihak terkait sehingga bisa berjaga-jaga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here