Pluralisme dan Nilai Kemanusiaan dalam era New Normal

0

Keanekaragaman agama, suku, bahasa dan kebudayaan menjadi keunikan tersendiri. Sepatutnya keunikan yang dimiliki ini dapat dijaga, Bertolak dari itu, STT Real Batam bekerja sama dengan Universitas Kristen Indonesia, menggelar webinar, Jumat (29/06/2020), pukul 10.00 wib -selesai, dengan mengangkat tema “Pluralisme dan Nilai Kemanusiaan dalam era New Normal.”

Webinar ini mengadirkan narasumber, diantaranya, Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, Pdt. Dr. Nus Reimas, Ketua Harian PGPI Pusat, Pdt. Jason Balompapueng, Ketua STT Real Batam, Dr. Fransiskus Irwan Widjaja, M.Mis dengan moderator, Dosen prodi PAK FKIP UKI, Noh Ibrahim Boiliu, M.Th, M.Pd.

Acara dibuka dengan doa pembukaan oleh Septe Wawuru, dilanjutkan dengan bersama sama menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.

Dr. Fransiskus Irwan Widjaja,M.Mis, mengatakan mengatakan semenjak diumumkan oleh pemerintah Indonesia memasuki Covid-19, pada 02 Maret 2020, sisi kehidupan agama dan Covid-19 saling berhadapan dibanyak sisi.

Dr. Fransiskus Irwan Widjaja,M.Mis (Narasumber sesi 1)

Pandangan-pandangan dari masing-masing keyakinan agama yang ada di Indonesia mengerucut menjadi satu hal, adanya peringatan Tuhan untuk manusia dan harus kembali kejalannya.

Namun pandangan itu berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan (atheis). “Bagi mereka hal ini merupakan konspirasi. Pada saat ini kita akan membahas pluralisme agama di Indonesia yang memilki 6 keyakinan. Membangun Pluralisme merupakan himbauan menerima kemajemukan, suatu tatanan masyarakat yang saling mengerti untuk kesatuan dan kepelbagaian,”kata, Dr. Fransiskus Irwan Widjaja,M.Mis.

Tambahnya, dalam Kekristenan, ada perintah Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. “ Dengan keragaman bangsa kita maka dapat dilihat menjadi ladang misi yang sudah menguning dan siap untuk dituai,”ujarnya.

Baca juga:  Cara Unik API DKI Jakarta Isi Waktu dengan Vitual Tour

Bersamaan dengan itu, Dr. Fransiskus Irwan Widjaja,M.Mis melihat, dogmatisme, ekstrimisme, dakwah agama dan fundamentalisme menjadi penghambat dari pluralisme di Indonesia. “Saya melihat umat Kristen perlu mereformasi diri dengan mengedepankan nilai Kekristenan yang dapat menyesuaikan kehidupan pluralisme di Indonesia. Keadaan yang mendesak ini akibat Covid-19, tentulah memunculkan banyak perubahan. Kalau dahulu pada 31 Oktober 1517 Martin Luther mereformasi gereja, jangan-jangan Covid-19 ini juga mereformasi gereja masa kini,”ungkapnya.

Pdt. Jason Balompapueng menjabarkan peran gereja dalam pluralisme memasuki era new normal. “Kita memasuki tatanan kehidupan yang baru,”katanya sambil menitir firman Tuhan yang terdapat dalam Matius 16: 13-20.

Pdt. Jason Balompapueng (Narasumber sesi 2)

Lanjutnya, Gereja merupakan satu-satunya institusi yang menyelamatkan manusia dari maut. Gereja adalah institusi yang berkomitmen antara Tuhan dan manusia. Dunia ini sedang mengalami Covid-19.

Kata Pdt. Jason Balompapueng, ada beberapa point penting dalam peran gereja memasuki new normal. Pertama, penyebaran Covid-19 harus diberhentikan dan gereja harus ikut serta membantu pemerintah Indonesia. Gereja mendukung secara penuh semua bentuk kebijakan pemerintah, termasuk penerapkan PSBB tiap wilayah.

Kedua, gereja menerapkan kebijakan dengan memasuki era new normal. Mendukung semua upaya pemerintah ini setelah pemerintah melihat semua kajian menyeluruh mengenai penanganan Covid -19.

Ketiga, gereja harus berani memberikan masukan kepada pemerintah. Keempat, gereja harus memberikan edukasi kepada masyarakat dan harus ada kejujuran. “Oleh sebab itu, umat Kristen harus dapat menjadi terang dunia. Ikut mensupport jika ada yang menggerakan kegiatan untuk bertobat secara nasional. Gerakan berbalik kepada Tuhan, perlu dilakukan,”ujarnya.

Baca juga:  6M, Cara Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo Hadapi Covid-19

Hal senada juga dikatakan, Pdt. Dr. Nus Reimas, di sesi terakhir, dunia saat ini dikuasi oleh digital. Lebih khusus lagi, adanya Covid-19, menjadikan ke individualime digital.

Pdt. Dr. Nus Reimas (Narasumber sesi 3)

Pdt. Dr. Nus Reimas berkata, kekristenan dan kemanusiaan seperti yang dikutipnya dari firman Tuhan di Kisah Para Rasul 11:26, Matius 22:37-40. Semua menjelaskan bagaimana visi Tuhan untuk manusia untuk saling mengabarkan tentang hal kerajaan Allah.

Kata Pdt. Dr. Nus Reimas, Tuhan telah memberikan mandat, pertama adalah mandat Ilahi pembangunan (Kejadian 1:28, 2:15, Yeremia 29:7). Kedua mandat ilahi pembaharuan (Matius 28 : 18-20). “Pluralisme menumbuhkan nilai kemanusian untuk saling berbagi dan sama-sama membantu semua lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan. Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia akibar adanya masih melihat perbedaan, bisa di tanggulangi bersama asalkan ada rasa saling menghargai satu dengan lainnya,’katanya.

Kemudian, Pdt. Dr. Nus Reimas, menutup pemaparannya dengan mengatakan perlu ada jembatan kemanusiaan dan persaudaraan antar semua pihak untuk mewujudkan keharmonisan karena merupakan wujud kasih Kristus melalui kekristenan.

Foto bersama peserta Zoominar.

Acara di akhiri dengan foto bersama dalam Zoominar ini dengan semua peserta dan narasumber yang mengikuti zoominar tersebut. (Vifa6).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here