Polres Depok Didesak untuk Segera Tuntaskan Kasus Pelecehan Seksual yang Dilakukan Seorang ‘Bruder’

0
Pelecehan seksual anak
Ilustrasi: Pelecehan anak membuat trauma berkepanjangan. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Kasus pencabulan anak-anak yang pernah diasuh oleh Lukas Lucky Ngalngola atau sering disebut sebagai “bruder Angelo” seakan mandek, padahal kasusnya sudah berjalan kurang lebih 2 tahun ini.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) meminta Kepolisian Resort Depok untuk segera menuntaskan penyidikan kasus tersebut. Demikian bunyi rilis yang dikirimkan oleh salah satu kuasa hukum korban, Judianto Simanjuntak, SH.

Selain kasus pencabulan anak-anak, kedua lembaga ini juga mendesak Kepolisian Republik Indonesia membuka penelusuran dugaan tindak pidana perdagangan orang dalam kasus ini, karena anak-anak asuh diambil dari orang tua mereka yang jauh dari Depok, seperti dari Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur.

Saat ini “Bruder Angelo” diketahui masih berkeliaran bahkan dikabarkan membuka panti lagi dan hidup bersama anak-anak di bawah umur.

“Misalnya kalau korban sulit diharapkan maka bisa pakai cara lain. Jadi saya berharap benar-benar gunakan berbagai cara semaksimal mungkin seperti CCTV atau hal-hal yang tidak terpikir,” kata anggota Komplonas, Poengky dalam acara bedah kasus pencabulan Angelo yang diadakan ECPAT bekerja sama dengan Mitra Imadei beberapa waktu lalu.

Baca juga:  PGI dan KWI Keluarkan Surat Bersama Isinya Pesan Natal

Poengky mengatakan Kompolnas sudah menerima pengaduan dari pengacara secara resmi dan akan ditindaklanjuti serta akan melakukan gelar perkara agar kasus ini dijalankan dengan lebih baik.

Sementara itu, Plt Deputi Perlindungan Anak di KPPA meyakini bahwa ini bukan kasus pelik sehingga Polres Depok sampai kesulitan melakukan penyelidikan. “Serahkan saja, kumpulkan saja. Nanti jaksa yang menentukan. Jadi berkas ini harusnya naik saja. Kami beri kesempatan pada kepolisian dan kejaksaan untuk konsultasi ke kami,” katanya.

Di sisi lain, Ipda Tulus Handani yang mewakili Ipda Elia Herawati, kepala unit PPA Polres Depok, mengungkapkan bahwa kepolisian telah mendapatkan petunjuk dari hasil visum.

“Pada saat hasil visum kita ambil ternyata di luar dugaan ada hasil yg menunjukkan anus korban terdapat luka. Atas dasar luka tersebut kami periksa lagi korban saat dia di Handayani (panti yang dikelola Kementerian Sosial) tetapi korban tidak bisa menjelaskan luka tersebut karena apa. Dia cuma bilang luka gatal, kita kasih pemahaman, dia bilang lupa. Kami sudah koordinasi utk minta pendampingan psikologi khusus utk gali keterangan korban…,” kata Tulus.

Baca juga:  Warga Israel Bisa Bepergian ke UEA

“Karena luka dubur pastinya ada kekerasan lagi, entah karena ada pelaku lain atau karena alasan lain,” tambah Tulus.

Polisi lamban

Kuasa hukum para korban sejak September 2020, Ermelina Singereta mengungkapkan bahwa kinerja Polres Depok terkesan sanat lamban bahkan seperti ada pembiaaran. “Hal ini dapat terlihat dari hasil gelar perkara yang hasilnya kasus ini masih berada di tingkat lidik, dengan alasan kepolisian harus meminta keterangan tambahan dari korban, saksi dan perlu adanya visum et psikiatrikum bagi korban,” paparnya.

Kuasa hukum lainnya, Judianto Simanjuntak menambahkan ketika mengalami kesulitan seharusnya kepolisian segera berkoordinasi dengan kuasa hukum atau pihak terkait lainnya.

Sementara itu ahli hukum pidana Ahmad Sofian menduga Polres Depok melakukan penyidikan kasus ini setengah-setengah sejak September 2019. Ia mempertanyakan soal status penaguhan penahanan yang diberikan kepada tersangka Angelo, padahal kepolisian belum mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan sejak September 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here