Refleksi Awal Tahun PGI, Pdt. Gomar Gultom : Korupsi Menjadikan Sebagian Masyarakat Indonesia Miskin

0
Ibadah syukur awal tahun 2021 MPH PGI

Jakarta –Pdt. Gomar Gultom, dalam sambutannya di ibadah syukur Majelis Pekerja Harian (MPH) Persekutuan Gereja – gereja di Indonesia (PGI) awal tahun 2021 secara Daring, yang digelar, Senin (04/01)  via aplikasi zoom dan disiarkan secara live di chanel Youtube, YAKOMA-PGI mengatakan di tahun 2020 selain diperhadapkan dengan pandemi Covid-19, juga diperhadapkan dengan korupsi.

“Selain pandemi kita juga berhadapan dengan masalah sosio-politik yang menuntut peran profetis kita sebagai gereja. Salah satu masalah laten yang hingga kini masih kita hadapi adalah korupsi, yang menjadikan sebagian besar masyarakat kita tetap terpuruk dalam lembah kemiskinan, ”tegasnya.

Ketua Umum MPH PGI, Pdt. Gomar Gultom menuturkan, dalam perspektif gereja, korupsi bukan hanya masalah penyelewengan untuk keuntungan pribadi, tetapi terutama adalah kerusakan atau kebobrokan integritas, atau moral, yakni kebobrokan moral manusia yang tidak mampu mewujudkan dirinya sebagai Gambar Allah.

“Masalah korupsi ini tidak dapat dilepaskan dari budaya, dan system perpolitikan  kita yang masih carut – marut. Di samping minimnya etika berpolitik, kita menyaksikan betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk mengikuti kontestasi Pemilu, baik melalui Pilpres maupun Pilkada,”.

Baca juga:  Dr.Yogi Dewanto, MBA (Ketua STT REM) : Pendidikan Secara Daring dan Pelaksanaan Webinar Banyak Peminatnya

“Maraknya politik transaksional telah menyuburkan praktek korupsi. Akibatnya lembaga-lembaga demokrasi yang mestinya menjaga kepentingan masyarakat banyak, malah terus menerus menggerus kekayaan negeri ini untuk kepentingan pribadi dan kelompok,”katanya.

Lebih jauh, Pdt. Gomar Gultom menegaskan korupsi tidak mengenal waktu atau keadaan, bahkan terhadap masyarakat yang menderita akibat pandemi covid-19 ini, bantuan sosial yang menjadi haknya juga tidak luput disunat.

Masalah HAM dan radikalisme serta intoleransi juga dibahas oleh Pdt. Gomar Gultom, di sambutan ibadah syukur awal tahun. Pemajuan HAM yang menjadi tumpuan dan harapan masyarakat, kata Pdt. Gomar Gultom, sepertinya masih jalan di tempat. Berbagai pelanggaran HAM masa lampau belum satupun yang disentuh selama 2020, termasuk masalah Papua yang masih terus bersimbah darah. Kasus-kasus kekerasan dan pelanggaran HAM di Papua bagaikan penorehan pada luka-luka lama yang masih bernanah seperti terbunuhnya Pdt Yeremia Zanambani dan beberapa pendeta dan katekis. 

Pdt. Gomar Gultom berkata, masalah radikalisasi dan terorisme juga masih terus membayangi perjalanan rakyat Indonesia. Gugatan atas Pancasila sebagai dasar bersama sebagai bangsa masih terus terjadi oleh sekelompok orang. Penyebaran ujar kebencian, pola hidup sektarian dan aksi intoleran seolah menjadi keseharian, yang mengancam sendi-sendi kehidupan bersama kita sebagai masyarakat majemuk.  

Baca juga:  10 Kota Paling Toleran Versi Setara Institute, Salah Satunya ada di Jawa Tengah

Menurut Pdt. Gomar Gultom, pembiaran terhadap fenomena ini serta kecenderungan impunitas terhadap para pelaku yang mengatasnamakan agama bukan tidak mungkin akan berujung pada radikalisme dan terorisme, sebagaimana nampak dalam aksi-aksi teroris yang menelan beberapa korban jiwa di Sulteng.

“Aksi-aksi intoleran seperti inilah yang dihadapi oleh sejumlah umat beragama di Indonesia seperti Ahmadyah, Shiah, serta agama-agama lokal yang sulit memperjuangkan hak-hak sipil mereka. Demikian pun kesulitan sebagian warga gereja dalam  menjalankan kebebasannya beribadah, khususnya untuk memperoleh ijin mendirikan rumah ibadah,”katanya.

Ditegaskan Pdt. Gomar Gultom, tentu tidak semua respons dan perjuangan gereja berhasil dan menyenangkan hati setiap orang. Namun demikian itu bukan alasan bagi gereja untuk berhenti berjuang hingga di sini. Tahun 2020 boleh berlalu, dengan segala permasalahannya, selanjutnya gereja-gereja akan terus menyuarakan suara-suara dari pinggiran sembari memikul salib yang dipercayakan padanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here