Rev. Canon Dr Emily Awino Onyango, Uskup Anglikan Wanita Kedua di Afrika

0
Uskup Anglikan
Rev. Canon Dr Emily Awino Onyango. (Foto: Henry Njagi/NCCK)

Afrika – Sejak ditahbiskan tanggal 27 Maret 2021 sebagai asisten uskup Keuskupan Bondo Anglikan, ia menjadi wanita kedua yang menduduki jabatan tinggi dalam gereja di Afrika bagian timur-tengah. Sebelumnya, Uskup Ellinah Wamukoya dari Gereja Anglikan di Afrika Selatan yang terpilih tahun 2012 merupakan uskup wanit pertama di Afrika.

“Perjalanan untuk bergabung dalam pelayanan merupakan perjalanan yang panjang dengan kenangan indah seperti ketakutan bahwa saya tidak akan berhasil membawa Piala dan menyelenggarakan Komuni Kudus. (Saya) berterima kasih kepada keluarga saya, almarhum orang tua saya dan saudara dan saudari yang memberikan semua dukungan yang saya butuhkan untuk bertumbuh dalam pelayanan,” ungkap Rev Onyango dalam pidato penerimannya seperti dilansir dari laman WCC, Rabu (31/3/2021).

BACA JUGA  BUKU RENUNGAN ANTAR INDONESIA RAIH EMAS OLIMPIADE

Rev Onyango berharap jabatan yang ia duduki saat ini bisa menginspirasi banyak wanita di Afrika untuk mau lebih maju lagi, khususnya dalam gereja. “Ini tantangan besar, tapi saya ingin melakukan sesuatu dengan cara berbeda untuk membawa perubahan. Saya berharap pekerjaan saya dapat menginspirasi lebih banyak wanita untuk menjadi pemimpin di gereja,” harap Rev Oyango.

Ibu dua anak ini mengatakan menjadi tantangan tersendiri bisa memimpin dalam masa pandemi Covid-19. Menurutnya, para pemimpin gereja dunia mau tidak mau harus terus belajar untuk dapat menemukan cara-cara baru dan kreatif untuk melayani umat.

BACA JUGA  Perceraian dan Pernikahan Kembali dalam Ajaran Kristiani, Boleh?

“Hari ini, kami hidup dalam tantangan COVID-19. Ini telah mengungkap, seperti HIV dan AIDS, ‘pandemi bayangan’ dan stereotip gender yang menyebabkan banyak kematian sosial, ekonomi, spiritual dan fisik. Tantangan bagi para pemimpin di semua lini adalah kebutuhan (untuk) cara baru dalam menanggapi kematian ini dari landasan teologis yang kokoh,” katanya.

“Pelatihan dan pembelajaran yang kami butuhkan dan yang saya usulkan… termasuk teknologi. Bagaimana kita melakukan pastoral care melalui teknologi untuk menghadapi pandemi bayangan kekerasan berbasis gender, kekerasan seksual yang melahirkan ibu anak dan remaja, pandemi penyakit jiwa yang terpapar dan tidak terpapar, kecemasan, depresi, dan bunuh diri?,” tambah Rev Onyango.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here