Roti Tan Ek Tjoan, Roti Legenda Berumur 100 Tahun (1 abad) Yang Tidak Kalah Dengan Roti Modern

0

Menyebut “Tan Ek Tjoan”, bagi banyak orang langsung menghubungkan dengan merek roti yang terkenal sejak tempo dulu. Itu benar.

Sebetulnya usaha roti ini dirintis oleh istri Tan Ek Tjoan yg bernama Phoa Kie Nio. Sedangkan Tan Ek Tjoan sendiri mempunyai usaha depot es batu yang pada masa itu juga sangat dibutuhkan oleh orang banyak. Usaha roti di rumahnya yang sederhana tetapi cukup luas berada di Jalan Perniagaan (sekarang Jl. Suryakencana) Bogor pada tahun 1920.

Broodbakkerij Tan Ek Tjoan 1920. (Sumber : istimewa).

Tangan “dingin” sang istri meracik roti dan berkolaborasi dengan Tan Ek Tjoan yang pandai berbisnis menjadikan pasangan suami-istri ini kombinasi sempurna dan membawa roti “Tan Ek Tjoan” menjadi salah satu roti yang paling digemari.

Tan Ek Tjoan dan isti Phoa Kie Nio.

Itu sebabnya tidak heran kalau roti yang sudah 100 tahun (1 abad) ini pernah dinyatakan oleh histori menjadi kesukaan dari salah seorang pendiri bangsa Indonesia, yaitu Bung Hatta. Pada saat itu belum banyak bakery yang bisa membuat kue tart untuk merayakan ulang tahun, jadi banyak Pejabat Pemerintah pesan kue tart dan roti .

Cucu pasangan Tan Ek Tjoan dan Phoa Kie Nio, yaitu Lydia C. Elia, adalah penerus usaha roti dari generasi ke 3 keturunan Tan Ek Tjoan. “Ibu saya anak pertama pasangan dari Tan Ek Tjoan dan Phoa Kie Nio. Saya putri bungsu dari 6 bersaudara dari pasangan Lie Giok Keh (Cephas Zacharias Elia) dan Tan Bok Nio (Mary Elisabeth Elia), yang sebagai founder dan melayani Tuhan semasa mereka hidup, sebagai Gembala Jemaat di GSJA di Jl. Surya Kencana, yang saat ini dikenal sekarang sebagai GSJA Bethlehem” tutur Lydia C Elia sambil mengenang perjalanan usaha rotinya yang kini melegenda.

Sambil mengenang Lydia C Elia berceritera, tak pernah disangka tatkala seorang Belanda yang dikenal oleh Oma nya tiba-tiba mengajarkan membuat roti. “Mulailah Oma saya membuat roti sedikit demi sedikit dari usaha rumahan menjadi usaha roti yang dikenal cukup luas dan berkembang sampai ke Jakarta”. Peralatan yang dipakai diawali dengan sebuah mixer besar dan 3 buah oven dari batu bata dengan bahan bakar kayu dan minyak tanah yang masih ada sampai sekarang.

Baca juga:  Bukan Masalah Intoleransi, Gereja Toraja Mamasa Dibakar Jemaat yang Menderita Gangguan Jiwa

Dengan langkanya minyak tanah maka kini Tan Ek Tjoan sudah memproduksi roti dengan menggunakan oven modern. “Kami tidak lagi menggunakan oven dengan bahan bakar minyak tanah karena sudah tidak ada lagi bahan bakar tersebut di Indonesia,” tuturnya.

Walau menggunakan sistem produksi modern Lydia menegaskan dalam hal resep, tetap menggunakan resep turun temurun dari Phoa Kie Nio. “Kami tetap membuat roti dengan dasar resep zaman dulu yang menggunakan bahan-bahan baku alami (tanpa pengawet). Semua kami gunakan bahan-bahan yang alami dan tradisional dari generasi ke generasi ” tegasnya saat mengungkapkan ciri khas produk roti Tan EK Tjoan.

Produk pertama yang diluncurkan oleh Tan Ek Tjoan adalah roti tawar karena orang Belanda mengkonsumsi roti tawar sebagai sarapan paginya dengan diolesi selai, coklat meses, keju. Lalu, membuat roti bundar yang diberi nama roti kadet, yang teksturnya agak keras yang saat ini sudah tidak diproduksi lagi karena kurang cocok dengan selera saat ini yang lebih memilih roti bertekstur empuk. Dengan dibukanya toko Tan Ek Tjoan di Jalan Suryakencana, diluncurkan macam-macam roti manis dan roti gambang yang merupakan ciri khas Tan Ek Tjoan, dengan susu mocca sebagai minuman favoritnya.

Lydia C Elia, generasi ke-3 (tiga) penerus Bakery Tan Ek Tjoan, Bogor.

Lydia C Elia yang diminta oleh orang tuanya untuk melanjutkan Tan Ek Tjoan Bogor pada tahun 1985 mengungkapkan bahwa toko roti Tan Ek Tjoan yang dimulai di Bogor juga memperluas pasar dengan penjualan memakai pedagang gerobak keliling di seantero kota Bogor.

Baca juga:  Presiden Joko Widodo Pastikan Vaksin Covid-19 Gratis

“Saya sebelumnya bekerja di tempat lain, bukan di perusahaan roti ini. Saya mulai manage perusahaan Tan Ek Tjoan tahun 1985 dengan meninggalkan perusahaan tempat saya bekerja. Saya diminta oleh keluarga untuk mengelola perusahaan roti ini dengan modal yang hanya Rp. 180.000,- yang sebetulnya jauh dari memadai untuk membiayai operasional, belum lagi adanya beban hutang yang harus dibayar”, kenangnya. Tetapi lewat pertolongan Tuhan, dalam waktu yang pendek Tan Ek Tjoan bisa survive, bahkan memulai usaha dengan pedagang gerobak keliling di Bogor.

Lydia C Elia dengan gerobak keliling rotinya. (Sumber : Istimewa).

Saat itu banyak turis Belanda yang datang berkunjung ke restoran dan minimarket Tan Ek Tjoan kami setelah tur dari Kebun Raya. Tan Ek Tjoan adalah salah satu destinasi warga Belanda yang pernah bertugas di Buitenzorg, untuk bernostalgia sambil bersantai sejenak. “Mereka mencari spekuk (lapis legit), ontbijtkoek dan home-made ice cream buatan Tan Ek Tjoan. Sampai saat ini produk yang diproduksi dari jaman Belanda itu tetap eksis dan menjadi andalan.”

Roti Gambang, roti favorit Tan Ek Tjoan Bakery sejak dahulu. (Sumber : Istimewa).

Dari kisah perjalanan perusahaan keluarga ini dapat disimpulkan hanya karena berkat pertolongan Tuhan dan usaha keraslah, perusahaan roti Tan Ek Tjoan bisa bertahan hingga 100 tahun. Saat ini Tan Ek Tjoan tetap diberkati Tuhan dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang, paling tidak dengan masih banyaknya karyawan Tan Ek Tjoan yang sudah bekerja dari jaman dahulu sampai masa peralihan regenerasi, bahkan sampai saat ini.

Salah satu cabang Roti Tan Ek Tjoan di Bekasi Timur. (Sumber : istimewa).
https://www.youtube.com/watch?v=iqIJo8QM1vo

Untuk mengetahui lebih lanjut, bagaimana di tangan Lydia sampai membuat roti Tan Ek Tjoan bisa bertahan dan bisa melewati masa pandemi Covid-19, ikuti selengkapnya di video YouTube Vifamedia. (Vifa 6/7)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here