RUU Minuman Beralkohol Diusulkan, Ini Tanggapan Ketua PGI

0

RUU Larangan Minuman Beralkohol (RUU LMB-red) diusulkan oleh 21 anggota DPR dari tiga fraksi, yakni Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, dan Fraksi Gerindra. Salah satu pengusul, Illiza Sa’aduddin Djamal beralasan RUU ini mendesak demi melindungi generasi bangsa dari penyalahgunaan minuman beralkohol.

“Saat ini minuman beralkohol belum diatur secara spesifik dalam bentuk UU. Sebab saat ini hanya dimasukkan pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dengan pasal yang sangat umum dan tidak disebut secara tegas oleh UU,” kata Illiza dalam keterangannya, Kamis, 12 November 2020, dilansir dari tempo.co.id.

Alasan Illiza, RUU Larangan Minuman Beralkohol perlu karena bertolak dari surat Al-Maidah (90-91) yang memiliki arti “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk berhala), dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

Ketua Umum (Ketum) Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom dalam keterangan yang diberikan kepada vifamedia melalui WhatsApp mengungkapkan responnya. “Saya geleng-geleng kepala terhadap pembahasan RUU Larangan Minuman Beralkohol di DPR-RI saat ini. Pada 2016 lalu, PGI telah menyampaikan pandangan mengenai hal ini melalui RDPU DPR-RI,” katanya.

Ketua Umum PGI , Pdt.Gomar Gultom.

Menurut pendeta berdarah Batak ini, lebih baik DPR memprioritaskan pembahasan RUU PMHA, RUU PKS dan RUU PPRT. RUU yang disebut Pdt. Gomar lebih mendesak dibahas karena menyangkut masalah struktural yang sulit diselesaikan tanpa kehadiran sebuah regulasi.

Baca juga:  Ini Kata Hamba Tuhan Soal Digitalisasi Pelayanan

“Saya melihat pendekatan dalam RUU LMB ini sangat infantil, apa-apa dan sedikit-sedikit dilarang. Kapan kita mau dewasa dan bertanggung-jawab? Di saat negara Arab seperti UEO yang kini membebaskan minuman keras, kita malah hendak mengeluarkan regulasi yang melarang minuman beralkohol,” tanyanya.

Pdt. Gomar mengatakan saat ini yang dibutuhkan adalah pengendalian, pengaturan dan pengawasan yang ketat serta dibarengi dengan penegakan hukum yang konsisten. Hal tersebut sudah diatur dalam KUHP (pasal 300 dan 492) dan Permen Perdagangan (No 25/2019).

Pdt. Gomar berpendapat, tidak semua hal harus diselesaikan dengan undang-undang, apalagi dengan beragamnya tradisi dalam masyarakat Indonesia tentang minuman beralkohol ini. Pendekatan prohibitionis atau larangan buta seperti RUU ini, menurutnya tidak menyelesaikan masalah penyalah-gunaan minuman beralkohol.

Secara tegas Pdt. Gomar mengatakan jangan sedikit-sedikit selalu hendak berlindung di bawah undang-undang dan otoritas negara lalu dengan itu jadi abai terhadap tugas pembinaan umat. Sebab yang jauh lebih penting adalah pembinaan serius oleh seluruh komponen masyarakat agar masyarakat makin dewasa dan bertanggung-jawab.

Baca juga:  Pengaruh Media Kristen Online Di Lingkungan Umat Kristiani Indonesia

Dilihat dari draf yang beredar, sanksi pidana bagi para peminum atau orang yang mengonsumsi minuman beralkohol, berupa pidana penjara maksimal dua tahun atau denda maksimal Rp50 juta.

Sanksi pidana atau denda tersebut tertuang di Pasal 20 Bab VI tentang Ketentuan Pidana RUU Minol.

Sebagaimana diatur dalam pasal 7, setiap orang yang mengonsumsi minuman beralkohol dipidana penjara paling sedikit tiga bulan dan paling lama dua tahun atau denda paling sedikit Rp 10 juta dan paling banyak Rp 50 juta.

Dalam Pasal 7 Bab III mengatur setiap orang dilarang mengonsumsi minuman beralkohol golongan A, golongan B, golongan C, minuman beralkohol tradisional dan minuman beralkohol campuran atau racikan.

Bagi yang melanggar atau minimum alkohol, apalagi sampai yang bersangkutan dinilai mengganggu ketertiban umum atau mengancam keamanan orang lain akan di sanksi sebagaimana tertuang pada Pasal 21 angka (1) Bab VI, maksimal lima tahun atau denda maksimal Rp 100 juta. (Kontributor-LN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here