Sekum PGI Berkunjung ke Sigi, Bukti Bentuk Komitmen Oikumene

0
Sekum PGI, Jacklevyn Fritz Manuputty dan Ketum GPID pose bersama dengan pelaku tarian adat

Sekretaris Umum Persekutuan Gereja – gereja di Indonesia (PGI), Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, melakukan kunjungan ke Sulawesi Tengah, Kamis (10/12/2020) – Minggu (13/12/2020), dalam rangka monitoring program pasca bencana gempa Palu 2018, yang dikerjakan oleh Unit Pengurangan Risiko Bencana (PRB) – PGI.

Gempa Palu, Sulawesi Tengah pada 28 Desember 2018, telah “mengegerkan” masyarakat Indonesia dan dunia. Pasalnya, gempa itu berkekuatan 7,4 Mw, yang diikuti dengan tsunami setinggi 5 meter dan diikuti terjadinya likuefaksi (pencairan tanah), di beberapa tempat di Sulawesi Tengah.

Para korban dan dan yang terdampak, khususya kepada enam jemaat Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) dan Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yang ada di wilayah Kabupaten Sigi, pasca gempa diberikan bantuan dan dukungan serta pendampingan oleh Unit PRB – PGI dan Presbyterian Church of Ireland.

Enam jemaat yang menerima bantuan dan dukungan serta pendampingan dalam pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Jemaat dari PRB – PGI itu, diantaranya, GKST Jemaat Bethel Watubula, GPID Jemaat Filadelfia Lakuta, GKST Jemaat Imanuel Siroa, GKST Jemaat Karmel Puroo, GPID Jemaat Pniel Puroo, dan GPID Jemaat Tiberias Kangkuro.

Dukungan yang diberikan, dari bidang pertanian, peternakan, usaha pembuatan keripik pisang, usaha pembuatan sapu ijuk/sapu lidi. Juga pendamping psikososial bagi anak-anak dan remaja, tof untuk guru-guru sekolah minggu remaja, nutrisi tambahan untuk anak-anak, remaja, ibu hamil dan lansia serta pelatihan pengurangan resiko bencana berbasis Gereja.

Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty saat dipakaikan “Siga”

“PGI melakukan kunjungan dalam rangka monitoring program pasca bencana 2018. Sekaligus kunjungan yang sifatnya pastoral ke jemaat – jemaat, wilayah – wilayah yang terdampak bencana, termasuk adanya ketegangan – ketegangan yang terjadi hari – hari terakhir ini seperti di Kabupaten Sigi,”kata Sekum PGI, yang akrab dipanggil Pdt. Jacky.

Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, menuturkan kunjungannya ke Sulawesi Tengah, mendapatkan sambutan yang luar biasa. Jemaat telah memasang spanduk selamat datang dan menyiapkan lagu khusus untuk PGI. 

Jemaat sangat antusias,  sangat hangat, ada spanduk  selamat datang, bahkan ada lagu yang dinyanyikan oleh ibu – ibu untuk PGI dengan menggunakan pakaian adat.  

Baca juga:  Ketum GBI Ajak Umat Kristiani Bersatu, Berdoa Untuk Keluarga Korban Pembunuhan Sadis di Sigi

Lewat penjemputan hangat dari jemaat telah membuat rasa lelah secara fisik yang dihadapi oleh Pdt.Jacklevyn Fritz Manuputty, karena harus melalui perjalanan selama 3 jam dengan jalan yang rusak, hilang seketika.

Pada penjemputan itu, ada hal menarik. Saat itu, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty dijemput dengan tarian adat Kulawi. “Pak Sekum disambut secara adat Kulawi, atas kerjasama GPID, pemerintah setempat dan Lembaga adat. Artinya Sekum telah diterima sebagai masyarakat Kulawi, sebagai pemimpin dan sebagai putra terbaik Kulawi, Putra Sulawesi Tengah,”terang Ketua Umum GPID, Pdt. Alexander Z Rondonuwu, yang mendampingi Sekum PGI. 

Sekum PGI dan Ketum GPID disambut jemaat dengan antusias

Pdt. Jacky  dan Ketua Umum Sinode GPID dipakaikan “Siga” (Penutup Kepala) sebagai simbol rasa sukacita dan berkat serta pengakuan dan penerimaan sebagai warga sekaligus orang tua bagi masyarakat Lindu. Kegiatan ini juga di hadiri oleh beberapa perangkat desa antara lain Sekertaris Camat Lindu, Kepala Desa Puroo, Tua-tua adat dan sebagian jemaat.

Kepada vifamedia.com, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, membagikan temuannya saat mengunjungi jemaat GPID dan GKST yang menjadi korban bencana dahsyat. “Secara spiritual jemaat GPID dan GKST yang menjadi korban bencana dahsyat bisa bertahan, bahkan melewatinya dengan senyuman dikarenakan memahami diri tidak lagi sebagai korban. Sebab kalau semata – mata melihat sebagai korban tidak akan berkembang baik,”kata Sekum PGI.

Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, berkata pada jemaat – jemaat yang ditemuinya, bantuan – bantuan dari manapun yang diterima itu sifatnya hanya stimulant alias hanya bantuan. Dibutuhkan kemampuan masyarakat setempat untuk mengembalikan kekuatan dan kekokohan integritasnya untuk “bertarung” ke depan. Ini diperlukan,  kekokohan persekutuan yang nampak. 

“Kehadiran kami ini menjadi penting demi sebuah persekutuan yang kokoh. Itu yang nampak dari kunjungan ini. Dalam arak – arakkan oikumene tindakan saling menolong ini penting untuk memastikan kita tidak berjalan dalam satu arak – arakan dengan tidak peduli satu dengan lainnya,”tegasnya. 

Lebih jauh, Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty menekankan, bila ada satu anggota tubuh yang terluka maka seharusnya dirasakan oleh satu tubuh. Dalam hal ini, ketika ada jemaat yang mengalami bencana, maka jemaat yang tidak mengalami tetap turut merasa. 

Baca juga:  Pemilik Vifamedia Surprise, HUT ke-74 Tahun Dirayakan Karyawan

“Bila itu yang dirasakan maka akan terjalin kerjasama untuk saling menopang, saling membantu baik saat bencana maupun pasca bencana. Dan tidak hanya bicara bencana alam, tetapi juga bencana kemanusiaan seperti konflik. Apalagi dalam masa pandemi seperti ini kita harus memperkuat solidaritas Oikumene,”paparnya seraya menaruh harap, dengan saling berkunjungan akan saling membantu secara psikologi, moril dan memperkuat persekutuan. 

Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, mengungkapkan begitu terkesan dengan ungkapan dari Ketua Jemaat GPID di Lindu. “Biarpun gereja kami miring dan hancur tetapi persekutuan kami, iman kami tidak miring,”Sekum menirukan ungkapan Ketua Jemaat GPID Lindu.

“Ini pernyatan iman yang sangat kuat, bahwa hakekat bergereja ada pada persekutuan, pada kebersamaan, pada iman dan pengharapan. Itu yang memberikan energi positif untuk mereka bertahan melewati bencana dan menghadapi situasi pasca bencana,”terang Sekum. 

Pdt. Jacklevyn Fritz Manuputty, berharap kepada gereja – gereja, sudah menyediakan sejak dini untuk menghadapi/mengantisipasi terjadinya perulangan bencana. Termasuk mengadministrasi program – program penanggulangan resiko. Sehingga setiap saat dibutuhkan bisa segera digerakkan. 

“Saya lihat itu sudah dilakukan oleh GPID dan GKST. Bagi gereja – gereja yang belum memiliki, segeralah untuk mempersiapkannya. Sebab kita berada di atas cincin api, di atas pertemuan berbagai lempengan yang bisa bergeser setiap saat. Dan setiap tahun kita punya daerah bencana, dan umat (gereja – gereja) ada di wilayah – wilayah bencana itu,”katanya. 

Ketua Majelis Daerah Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), di Sulawesi Tengah, Pdt. Dr. Franky Rewah, senang mendengar kunjungan Sekum PGI ke Sulawesi Tengah. “Kunjungan para pimpinan aras gereja itu memang sangat dinanti, dan itu dapat berguna untuk menjadi pendorong semangat, psikolgi jemaat yang menghadapi, dalam hal ini bencana,”tutur Pdt. Franky Rewah. 

Lebih jauh, kunjungan Sekum PGI menjadi bukti kuat Gereja mengambil peran strategis  dalam kegiatan sosial sosial dan diakonia. Peran Gereja dalam meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana merupakan aksi kasih dan kesaksian Kristen. (NBS).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here