Sekum PGI Pdt. Jacky Manuputty: Pentingnya Transformasi Pelayanan dan Kepemimpinan di Era Digital

0
Pdt Jacky Manuputty
Sekum PGI Pdt. Jacky Manuputty. (Foto Humas BNPB/M Arfari Dwiatmodjo)

Jakarta – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa dunia pada perubahan yang sangat cepat. Gereja harus mampu mengikutinya, terlebih di masa pandemi ini. Teknologi menjadi kunci agar pelayanan bisa tetap berjalan seperti biasanya.

Sekum PGI Pdt. Jacky Manuputty mengatakan suka atau tidak suka gereja memang harus beradaptasi dengan dunia digital. Ini penting supaya pelayanan gereja dapat terus menjangkau jemaat. “Apakah ini akan jadi tantangan temporer yang berlalu ketika pandemi ini? Saya kira tidak karena (gereja) telah masuk dalam dunia global,” ungkapnya dalam Webinar Universitas Maranatha ‘Disrupsi, Pandemi dan Transformasi Pelayanan’, Senin (8/3/2021).

Pdt. Jacky memberikan contoh salah satunya dari kelompok evangelism yang sudah mencoba menggunakan intelegensia buatan (kecerdasan buatan). “Ini adalah aplikasi percakapan online yang menyediakan partner dialog yang sudah diprogramkan dan disimulasikan seperti manusia. Dengan kata lain, robot pintar bisa membawa orang kepada Kristus,” paparnya.

Lebih jauh, hal-hal semacam itu menurut Pdt. Jacky memperlihatkan dengan jelas tentang pesatnya perkembangan teknologi. Untuk itu gereja harus berlari cepat dan tidak bisa lagi menolak (melarang) bila ada jemaatnya mendapatkan pengajaran Kristen dari berbagai tempat. “Saat ini konten pengajaran Kristen tersebar dalam jumlah yang sangat banyak (di internet) dengan kedalaman makna teologia yang berbeda-beda,” jelasnya.

Baca juga:  71 Tahun GMIBM, Ketua Umum PGI Beri Ucapan Selamat

Pdt. Jacky mengatakan gereja harus mau beradaptasi khususnya dalam hal transformasi dan kepemimpinan di era digital ini. Ada 4 poin yang ia sampaikan, seperti:

Pertama, gereja dan kepemimpinan gereja harus terbuka terhadap teknologi dan transformasi digital. Intinya gereja harus mampu mengembangkan kreatifitas dan mengembangkan sikap terbuka terhadap inovasi teknologi.

Kedua, gereja dan kepemimpinan gereja harus bisa mengembangkan cara berpikir kristis dan bijaksana. “Sebab salah satu karakter distruptif adalah semakin kompleksnya situasi yang problematis yang membutuhkan kapabilitas prima bagi pemecahannya. Hakikat kebenaran semakin absurd karena kebenaran bisa direkayasa dan dimultiplikasi secara masif dengan menggunakan perangkat teknologi, bahkan kebohongan bisa difabrikasi,” tuturnya.

Baca juga:  Pdt. RJ Banoet Tetap Semangat Melayani Meski Hanya Hidup dengan Satu Ginjal

Ketiga, gereja dan kepemimpinan gereja harus lincah bergerak. Sebab salah satu karakter dalam 4.0 mampu bersikap cekatan. Keempat, gereja harus mampu mengelola jaringan.

“Pembentukan jejaring jemaat secara online telah menjadi realitas baru yang terus berkembang dalam berbagai varian. Situasi ini menantang gereja untuk menakar ulang pertemuan konvensial. Kekhasan dalam relasi jaringan online ini adalah centralisasi dan personifikasi menjadi lemah bahkan cenderung melebur dalam posisi setara setiap anggota jaringan. Dalam pola jaringan seperti ini dibutuhkan tipe kepemimpinan yang mampu mengelola jaringan yang dengan kompetensi emosional yang teruji. Pemimpin harus mampu melayani dengan cinta, membina dengan kerendahan hati,” urainya.

Diakhir, Pdt. Jacky mengingatkan agar gereja senantiasa memberikan ruang kepada anak muda. Sebab anak muda biasanya memiliki banyak ide (inovasi) yang bisa mendatangkan dampak positif bagi pelayanan gereja. “Intinya gereja harus terbuka dengan kaum muda karena harus disadari bahwa kemampuan inovasi akan menurun seiring pertambahan usia,” pesannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here