Suka Tidak Suka Digitalisasi Pelayanan Harus Dilakukan Gereja

0

Selasa (23/6/2020) Bilangan Research Centre (BRC) menggelar Zoominar mengenai hasil survei nasional tentang “Realita Digitalisasi Pelayanan Gereja Selama Pandemi Covid-19” dengan pembicara CEO Frontier Group, Ketua BRC Handi Irawan.

CEO Frontier Group, Ketua BRC Handi Irawan. (Foto: Istimewa)

BRC menggunakan survei kuantitatif dengan metode pengumpulan data secara online. Sedangkan responden terdiri dari para hamba Tuhan yang berada di Jabodetabek, Jawa, luar Jawa dan berasal dari 3 aliran gereja yaitu Mainstrem, Injili, Pantekosta/Kharismatik.

Menurut Handi dalam 3 bulan terakhir ini banyak gereja yang mampu beradaptasi dengan digitalisasi pelayanan. Ini dibuktikan dengan hasil temuan saat ini ada 64% gereja yang memiliki komisi/departemen digital. Sedangkan sebelumnya, hanya 41,5% gereja yang memiliki komisi/departemen digital.

Baca juga:  1.618 Orang Berhasil Divaksin PGI dan Kementerian Kesehatan

Sementara itu, dari aliran gereja, gereja Pantekosta/Kharismatik paling banyak memiliki komisi/departemen digital sebelum pandemi sebanyak 52%, sedangkan Injili 39,4% dan Mainstream 31,3%.

Handi menjelaskan antara sprititualitas dengan kesiapan gereja melakukan digitalitasi pelayanan memiliki hubungan yang erat. Dari hasil temuannya, sebanyak 36% jemaat mengalami kenaikan, 26,4% sama saja, 14,8%mengalami penurunan dan 22,5% tidak tahu.

Di sisi lain, dari kalangan hamba Tuhan, di aliran Mainstream sebanyak 33,1% Ignorant, 49,7% Reactive, 14,4% Climber dan 3,1% Savvy. Sedangkan aliran Injili sebanyak 28,6% Ignorant, 49,8% Reactive, 15,3% Climber dan 6,4% Savvy. Aliran Pantekosta/Kharismatik 24,2% Ignorant, 42,9% Reactive, 21,2% Climber dan 11,6% Savvy. “Dari pengukuran digital mindset dan perilaku digital terbentuk 4 segmen hamba Tuhan yaitu Ignorant 28,3%, Reactive 47,2%, Climber 17,1% dan Savvy 7,3%.”

Baca juga:  Whatsapp "Genit", Kominfo Panggil Perwakilan Platform
Ketum PGI Pdt. Gomar Gultom (Foto: Istimewa).

Dalam kesempatan berbeda, Ketum PGI Pdt. Gomar Gultom menegaskan gereja harus melek teknologi agar jemaat tetap dapat terlayani dengan baik. Gereja harus mampu merubah mindset negatif soal digitalisasi pelayanan. “Selama ini ada kegamangan di lingkungan gereja. Layanan online dinilai akan menggerus nilai persekutuan yang bertumpu pada perjumpaan badan (fisik). Gereja identik dengan persekutuan dan persekutuan itu identik dengan pertemuan ragawi,” ungkap Pdt. Gomar. (Kontributor : Nunu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here