Temu Kangen Virtual, Alumni STT INTI Berbagi Pengalaman

0
STT INTI
STT INTI

Bandung – Bertajuk Talk Show Alumni “Set The Pace” Sekolah Tinggi Teologi (STT) INTI Bandung menggelar temu kangen virtual pada, Kamis (25/2/2021). Temu kangen virtual ini diadakan dalam rangka Dies Natalis STT INTI ke-30.

Adapun tujuan dari temu kangen virtual ini untuk menceritakan pengalaman para alumni kepada mahasiswa maupun masyarakat luas tentang pelayanan yang diemban usai lulus. Termasuk menceritakan susah senang serta tantangan yang dihadapi.

Seperti Gembala Jemaat MDC Garut, Pdt. Irvan Sinaga. Ia mengungkapkan tantangan terberat yang harus ia hadapi dalam pelayanan adalah melayani jemaat yang usianya jauh di atas dirinya. “Saya mulai melayani di sana ketika berusia 24 tahun. Saya masuk dengan jemaat yang sudah ada tapi usia mereka antara 50-70 tahun,” ungkapnya.

Saat itu tidak mudah baginya bisa mendapatkan penerimaan dari para jemaat. Sempat beberapa kali hatinya goyah ingin mundur. “Pikiran saya ketika masuk adalah saya akan diremehin oleh mereka (jemaat). (Tapi ) Oleh anugerah Tuhan sebagian besar menerima, walaupun ada 1-2 yang kurang menerima,” paparnya.

Baca juga:  BLK Komunitas Kejuruan Kesenian Dibangun GPM untuk Tingkatkan SDM

Menurutnya, penolakan dalam pelayanan adalah hal wajar dan harus dihadapi dengan kepala yang dingin serta hati yang bijak. “Saya anggap mereka adalah proses alias jembatan yang Tuhan kasih untuk saya lewati menuju tingkatan lebih lanjut,” katanya dan menambahkan pada akhirnya ia bisa diterima bahkan disupport oleh jemaat untuk melayani di sana.

Lain halnya dengan Pdt. Riska Virantika Dewirani. Ia yang saat ini mengemban tugas sebagai Ketua Komisi Ibadah dan Doa MP GKPB serta Ketua Direktorat Dampak Global MDC Bandung mengaku tidak mudah awalnya membentuk pelayanan doa.

“Doa itu kan napas orang percaya. Tapi pada praktiknya dalam pelayanan, doa itu dianggap hal yang biasa saja (dianggap seperti rutinitas-red). Sehingga saya pelan-pelan harus mengubah mindset bahwa pelayanan doa juga tidak kalah penting dan harus bersinergi dengan pemimpin, penatua serta jemaat,” ceritanya.

Baca juga:  Harapan PGI Terhadap GPM di Bawah Kepemimpinan Pdt. E.T. Maspaitella

Bagi Pdt. Riska, tantangan lainnya datang ketika pelayanan misi. Ia mengaku sering merasa canggung karena dalam pelayanan misi lebih banyak diisi kaum pria. Selain itu ia juga harus mempersiapkan missionaris untuk diutus ke luar Indonesia.

Sedangkan dalam pandemi ini, lanjut Pdt. Riska dirinya sedang membangun persekutuan secara virtual. “Saya melihat pandemi ini menjadi tantangan saya bermisi menggunakan teknologi. Awal tahun ini kami baru memulai cell grup di Belgia dan Belanda secara digital. Kita sedang berupaya merintis gereja melalui teknologi yang ada,” ungkapnya.

Sebagai informasi, selain dua pembicara di atas juga ada tiga pembicara lainnya seperti Pdt. Lydia CSES (Gembala Jemaat MDC Kuta dan Tim Pastoral MDC Surabaya), Halomoan Siringo-ringo (Staf Bethany Church Singapore), dan Pdt. Cefrry Djaman Djenal (DPJ MDC Kupang).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here