Tokoh Gereja Papua Pdt. Lipiyus Biniluk dan PGI Minta Kasus Pembunuhan Kepala BIN Papua Diusut Tuntas

0
Penembakan
Ilustrasi: Penembakan. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Papua, Brigadir Jenderal TNI I Gusti Putu Danny Nugraha Karya tewas tertembak di Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Papua pada Minggu, (25/4/2021).

Brigjen Danny tewas dalam kontak tembak di sekitar Kampung Daungbet dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua. Dilaporkan, ia terkena tembakan di kepala.

Tokoh Gereja Papua Pdt. Lipiyus Biniluk berduka sekaligus geram dengan tindakan keji dari pelaku penembakkan. Ia meminta kasus penembakan Kepala BIN Papua ini diusut tuntas.

“Ini harus diusut siapa penembaknya, semoga Tuhan buka otak intelektual dibalik kejadian ini (karena) di Papua ada banyak kelompok (dari dalam dan luar) dan itu sulit diungkap,” tegasnya.

Menurut Pdt. Lipiyus, upaya soft approach dinilai penting dalam penanganan kasus kekerasan di Papua. Sebab bila kontak senjata, itu sama saja akan membuat banyak warga sipil yang bisa menjadi korban.

“Bicara menyelesaikan secara tuntas harus duduk di meja diantara kelompok besar OPM dan pemerintah. Harus terbuka semua. Ini hampir 60 tahun belum mampu selesai secara baik, ada apa?,” kata Pdt. Lipiyus yang juga Ketua Persekutuan Gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGRII) Papua dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua.

Baca juga:  Membuka Sidang MPL PGI, Jokowi Ajak Umat Kristen Bantu Pemerintah

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas gugurnya Brigjen Danny.

“PGI mengapresiasi upaya dan kerja keras Almarhum Kabinda Papua yang memberanikan diri memantau secara langsung situasi keamanan di wilayah berbahaya tersebut. PGI mendoakan agar keluarga Almarhum memperoleh ketegaran dan dikuatkan Tuhan untuk menerima peristiwa tragis ini. Peristiwa yang sudah terjadi ini sangat tidak dikehendaki oleh siapapun yang ingin melihat Papua menjadi tanah damai. Bukan sebaliknya, Papua menjadi tanah yang membara karena dendam, kebencian dan amarah, di mana nyawa manusia menjadi taruhan sia-sia,” kata PGI dalam siaran pers yang diterima Vifamedia, Selasa (27/4/2021).

PGI juga menyampaikan dukacita atas berbagai peristiwa pembunuhan warga sipil yang terjadi di Intan Jaya dan Puncak Papua beberapa waktu lalu. “Atas alasan apapun, baik Papua Merdeka ataupun NKRI Harga Mati, serial pembunuhan ini tak bisa ditolerir dan harus segera dihentikan karena sungguh bertentangan dengan prinsip-prinsip keadaban dan kemanusiaan,” tegas PGI.

PGI meminta Panglima TNI dan Kapolri agar kasus pembunuhan terhadap Kabinda Papua segera diusut tuntas dalam rangka penegakan HAM, bukan karena pembalasan dendam. “Juga mengembangkan tata kelola kebijakan keamanan di Papua yang sungguh-sungguh humanis dan mengedepankan pendekatan budaya. Mengutamakan pendekatan keamanan yang represif akan meningkatkan teror, ketakutan, dan semakin menggali luka Papua yang telah lama menganga, sekaligus mempertebal ‘memoria passionis’ (ingatan-ingatan tentang penderitaan) bagi generasi Papua masa depan,” katanya.

Baca juga:  Lumbung Nusantara dan My Home Peduli Guru

Komnas HAM, lanjut PGI juga diminta untuk memantau potensi pelanggaran HAM di Beoga dan seluruh Papua. “Masyarakat Papua berhak untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan hidup yang dijamin oleh UU. Mereka tak boleh dibiarkan mengungsi, sehingga kehilangan kesempatan untuk mengelola sumber-sumber hidup yang Tuhan anugerahkan di tanah adat dan ulayat mereka. Jangan biarkan anak-anak Papua terputus hak bersekolah karena ikut mengungsi. Negara wajib menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat Papua untuk tinggal di atas tanah ulayat mereka,” tegas PGI.

Diakhir, PGI mendorong Presiden Jokowi membuka ruang dialog yang melibatkan seluruh elemen masyarakat Papua. Sebab menurut PGI, dialog bisa menjadi jalan penyelesaikan yang bermartabat untuk penyelesaian masalah di Papua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here