UIE “Ikat” Tali Persaudaraan Yahudi, Kristen dan Islam dengan Mendirikan Rumah Abrahamik

0
ilustrasi : rencana pembangunan rumah Abrahamik di pulau Saadiyat, Uni Emirat Arab.

Manusia di kolong langit ini, dapat dipastikan mayoritas menjalankan agama Yahudi, Kristen, dan Islam atau dapat disebut agama Abrahamik.

Walau begitu, masih saja terus ada praktik-praktik diluar ajaran agama, yang dilegitimasi dan mengatasnamakan agama untuk melakukan kekerasan, baik fisik dan psikologi. Akibatnya, tidak dapat dihindari terjadilah ketegangan antar pengikut-pengikut agama leluhur “abrahamik” ini.

Yang masih hangat dalam ingatan, peristiwa seorang pria berusia 20 tahun di Wina Australia melakukan penyerangan pembunuhan, Senin (02/11/2020). Sebelumnya juga seorang guru di Perancis bernama Samuel Paty dipenggal kepalanya setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad dari majalah satir Charlie Hebdo ke para muridnya di kelas. Insiden yang terjadi pada Jumat sore (16/10/2020).

Di ditengah munculnya praktik-praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama, tidak sedikit orang yang terus memperkuat ikatan tali persaudataan di antara agama-agama “Abrahamic”. Semisal, pemerintah Uni Emirat Arab (UIE) yang akan membangun Rumah Keluarga Ibrahim (Abrahamic Family House), terdiri dari Masjid, Gereja dan Sinagog, di Pulau Saadiyat, yang direncananya selesai tahun 2022.

Pulau Saadiyat (sumber : www.saadiyatculturaldistrict.ae).

Ujung tombak pelaksana Rumah Keluarga Ibrahim ini, Sir David Adjaye, menyadari setiap agama memiliki detail yang sangat unik. Untuk itu altar gereja akan mengarah ke timur, podium dan gulungan kitab Taurat (Sefer Torah) dari Sinagog akan mengarah ke Yerusalem, dan masjid akan diarahkan ke Ka”bah di Makkah.

BACA JUGA  Mulai 18 Desember, Keluar Masuk Jakarta (Yang Menggunakan Seluruh Transportasi) Wajib Rapid Test Antigen

“Ini adalah salah satu hal paling berani yang terjadi dalam arsitektur hari ini. Kubah dalam gereja, dan lengkungan masjid, gagasan penutup dalam tradisi Yahudi itu jadi detail yang mulai diperkuat,” kata arsitek asal Ghana dan Inggris yang juga pemenang penghargaan Sir David Adjaye, kepada media.

Memang Rumah Keluarga Ibrahim ini masih sebatas rencana tetapi sudah ditandatangani Februari 2019 oleh Paus Fransiskus dari Gereja Katolik dan Imam Besar Al-Azhar Dr. Ahmed Al Tayeb.

Lewat pembangunan Rumah Keluarga Ibrahim ini, terurai pesan seruan perdamaian universal dan rekonsiliasi semua agama, seperti itulah kata Pastor Gereja Anglikan St. Andrew di Abu Dhabi, Dr. Paul Burt.

BACA JUGA  Clara Panggabean Rilis Single Terbaru Berjudul “Sampai Detik Ini”

“Ketiga agama Ibrahim ini, menurut definisi, adalah pernyataan tentang apa yang mempersatukan kita. Dengan berkonsentrasi pada itu, kami mengatakan bahwa ini adalah kontribusi penting bagi komunitas dunia saat ini,” kata Dr. Paul Burt.

Sedangkan, ulama Muslim, Sheikh Dr. Fares Ali Mustafa, Imam dan pengkhotbah di Masjid dan Pusat Al Farooq Omar Bin Al Khattab UEA, antusias tentang inklusi dan toleransi agama yang dilambangkan dalam pembangunan. “Budaya cinta hadir dalam semua hukum ilahi; Yudaisme, Kristen dan Islam. Apapun di luar bingkai cinta, sama sekali bukan dari Tuhan,” katanya kepada Euronews.

“Sebenarnya rumah ini bukanlah sesuatu yang baru. Nabi Muhammad SAW biasa menerima delegasi Kristen di masjidnya dan menerima doa-doa Kristen. Jadi, Rumah Abraham dapat, meskipun baru, menghidupkan kembali budaya otentik ini,” paparnya. (Vifa5/dbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here