Umat Kristen Jangan Seperti “Kaum Farisi”

0

Jakarta – Penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia masih terus berlanjut. Sudah lebih dari 1 juta kasus terkonfirmasi positif hingga saat ini sejak diumumkan kasus pertama di Maret 2020 silam oleh Presiden Joko Widodo.

Beberapa langkah yang diupayakan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, mulai dari social distancing yang dimana pada saat itu dihimbau untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Lalu masuk ke era kenormalan baru, PPKM, dan yang terakhir program vaksinasi.

Salah satunya indicator tingginya angka konfirmasi positif berasal dari kerumunan. Beragam aturan sudah dilakukan untuk mencegah kerumunan, juga di tempat ibadah diberlakukan hal yang sama. Tempat ibadah dalam hal ini gereja, dikhawatirkan menjadi kluster baru Covid-19. Meski kegiatan ibadah diperbolehkan pemerintah dengan aturan protocol Kesehatan ketat, tetapi tetap saja gereja atau tempat ibadah tidak bisa memfilter jemaat yang hadir apabila jemaat tersebut dalam kategori Orang Tanpa Gejala (OTG) dan terkadang merahasiakan keadaan Kesehatan yang sebenarnya.

VifaMedia berbincang dengan pakar teologia dan juga dosen teologia, Ps. Steven Palit mengenai jemaat yang memiliki status OTG dan masih menganggap penyakit global ini sebagai aib.

“Covid ini bukan dosa bukan aib bagi seorang yang terpapar, sehingga banyak orang mungkin masih malu untuk mengutarakan terpapar virus Corona,” ungkapnya.

Baca juga:  Pdt. Kristina Faraknimella Bicara Hubungan Antara Pandemi dan Integritas

Menurutnya, kalau kita memahami akan bahayanya penyebaran virus ini maka setiap orang harus berhikmat. Ps. Steven mengambil ayat Alkitab dari kitab Amsal yang berkata bila tidak ada wahyu menjadi liarlah rakyat berbahagia lah orang yang berpegang pada hukum.

“Artinya kita kalau tidak memiliki visi yang jelas dalam hidup maka dalam saat itu juga berbahaya kita pasti akan menabrak segala aturan yang ada, hukum yang ada,” serunya.

Ps. Steven berpesan kepada seluruh masyarakat Kristen, untuk terus mematuhi arahan pemerintah mengenai protokol Kesehatan Covid-19 ini, dan jangan sampai ada stigma yang beranggapan bahwa umat Kristen tidak taat hukum.

Salah satu dosen teologia di STT REM ini mencontohkan dalam kisah alkitab, yakni ahli Taurat (kaum Farisi), dimana kaum tersebut adalah kaum yang ahli dalam kitab, tetapi justru kaum tersebut tidak menjadi teladan dan tidak mengaplikasikan Taurat tersebut dalam kehidupannya.

“Jemaat Tuhan yang bergereja harus mengaplikasikan apa yang dia dengar apa yang dia baca di dalam firman Tuhan”, pesannya.

Baca juga:  Oke F Supit : Perlu Cadangan Devisa Negara di Kuartal Kedua Tahun 2020 Mencegah Resesi Ekonomi

Pria asal Sulawesi Utara ini juga menanggapi mengenai pemikiran dalam beribadah di gereja secara tatap muka ada mujizat, ada kesembuhan sehingga orang-orang berbondong untuk beribadah meskipun keadaan kesehatannya tidak memungkinkan atau terindikasi sebagai OTG. Menurutnya, pandangan seperti itu tidak salah, tetapi yang digaris bawahi bukan gedung gerejanya melainkan Tuhan yang menyembuhkan.

Menurutnya, saat ini hampir seluruh Gereja telah melakukan ibadah secara daring. Itu bisa dimanfaatkan oleh para jemaat untuk bisa tetap terus beribadah. Ps Steven menambahkan, adanya pandemic Covid-19 ini telah merubah seluruh tatanan kehidupan yang ada baik tetanan dalam gereja termasuk dalam beribadah.

“Tuhan itu maha hadir Dia ada dimana-mana,” serunya. Meski beribadah secara online, Ps. Steven menambahkan hal tersebut tidak akan mengurangi esensi ibadah itu sendiri. “Asal engkau tidak goyah imanmu, asal Engkau percaya teguh kepada Tuhan, saya terlalu yakin dan percaya engkau akan mendapatkan kesembuhan, Tuhan pasti menyembuhkan engkau,” serunya lagi.

Menutup pembicaraan dengan VifaMedia, Ps. Steven berpesan agar terus berhikmat, beriman kepada Yesus Kristus dan tetap juga melakukan anjuran pemerintah perihal memutus penyebaran Covid-19 ini yakni untuk tetap melakukan protokol Kesehatan ketat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here