Vifamedia.com Gelar Webinar “Sikap dan langkah gereja dalam new normal”

0

Rabu (17/06/2020) vifamedia.com menggelar webinar dengan tema “Sikap dan langkah gereja dalam new normal” dengan menghadirkan pembicara, Ketua Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom, Ketua Umum PGLII Pdt. Ronny Mandang, Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial KWI Romo Antonius Steven, Ketua Harian PGPI Pdt. Jason Balumpapoeng, Ketua Umum PGPI-P Pdt. DR. Sherlina Kawilarang, Ketua Umum BPH GBI Pdt. DR. Rubin Adi Abraham dan Sonny Wuisan sebagai moderator, serta PS. Abraham Condrad Supit sebagai owner vifamedia.com.

Acara dibuka dengan doa oleh Pdt. Abraham Condrad Supit dan prolog tentang alasan webinar ini digelar. “Ada beban di saya, sejak majalah REM yang terbit setelah era reformasi 1998, Majalah ViFa dan Majalah Anak Hayo serta tabloid Victorious, dengan ijin SIUPP dari tahun 1998. Sekarang kita memasuki media online melalui vifamedia.com,”tuturnya.

Saat Webinar berlangsung di studio mini.

Masih katanya, ada beberapa pertanyaan yang masuk dan diterimanya yaitu disaat pandemi Covid-19 malah meluncurkan media. “Saya jawab, karena memang saya ingin ikut ambil bagian men-share berita-berita positif kepada orang-orang yang merasa takut,”terangnya.

Lebih jauh, Ps. Abraham Condrad Supit berkata, diharapkan dengan webinar ini memberikan kepastian kepada umat Kristiani dalam mengikuti ibadah di tengah pandemi Covid-19.

Setelah itu moderator mengucapkan selamat datang kepada para narasumber yang sudah hadir dalam zoom meeting.

Para Wartawan yang bergabung dalam PERWAMKI mengikuti WEBINAR Launching vifamedia.com

Moderator, Sonny Wuisan, S.H, menghantar jalannya seminar dengan berkata, di era new normal ini pemerintah sudah mengeluarkan keputusan, khususnya kementrian agama RI bahwa sudah bisa diperbolehkan beribadah bersama, namun harus mengikuti protokoler kesehatan yang diberikan pemerintah pusat.

Sonny Wuisan, S.H, kemudian memberikan kesempatan pertama kepada Ketua Umum PGI, Pdt. Gomar Gultom untuk mengemukakan pendapatnya yang sesuai tema webinar. “Pandemi memaksa kita siap atau tidak harus masuk dalam era baru, era digital atau online. Padahal selama ini gereja mendorong jemaat untuk ke gereja,”katanya.

Pdt. Gomar Gultom berpendapat, sekalipun pemerintah memberikan kebebasan untuk beribadah secara berkumpul tapi hal itu tetap harus membuat gereja siap mengadapi era baru. New normal menurut WHO mengatakan kurva pendemi harus menurun, kenyataan di lapangan, kurva cenderung naik dan meningkat, khususnya di Indonesia. “Oleh sebab Gereja jangan terburu-buru untuk melakukan ibadah berkumpul seperti biasanya. Beberapa daerah dan Sinode-sinode selama belum memenuhi proses new normal, bisa menahan terlebih dahulu ibadah, karena harus juga menyelamatkan jemaat. Sekarang waktunya gereja sudah disediakan salah satu media baru, yaitu digital dan online. Ketimbang kita mempertaruhkan keselamatan jemaat, lebih baik menggunakan online. Vifamedia.com merupakan salah satu langkah bijak untuk menyelamatkan jemaat dan ibadah,”terangnya.

Baca juga:  Doa Puasa Pengurus Ester GBI VIFA : Konsolidasi dan Berdoa untuk Bangsa Indonesia
Operator Host Zoom meeting sedang menjalankan tugas

Romo Steven Antonius Lalu, berkata bicara Sikap dan Langkah Gereja di Era New Normal, harus terlebih dahulu dilihat dari pemahamannya. Saat ini gereja sedang memasuki situasi yang tidak diharapkan diakibatkan pandemi Covid-19. Banyak orang sudah bekerja keras dari berbagai bidang, untuk melawan Covid-19 menjadi situasi yang baik dan normal kembali. “Kita jangan terus menerus tertidur saat stay home. Kita harus belajar untuk menata kembali kehidupan dengan menata ulang cara berfikir, cara bertindak dan cara mengambil keputusan ditatanan kehidupan yang baru ini. Mari kita menyesuaikan diri, pemerintah berkata harus berdamai dengan Covid -19. Sikap gereja katolik adalah siap menyesuaikan diri dengan keadan yang baru, apapun yang terjadi. Kita percaya dengan tuntunan Tuhan, kita harus patuh pada protokol dan aturan yang ada demi kebijakan bersama,”katanya.

Romo Steven Antonius Lalu juga berkata gereja Katolik semua langkah-langkah sudah diputuskan dan untuk kebaikan bersama. Kesalahan sekecil apapun bisa membuat hal yang buruk. Itu sebabnya langkah yang diambil gereja katolik sangat hati-hati terutama supaya rumah ibadah tidak jadi tempat penyebaran virus baru atau cluster baru. “Kita ada tahap persiapan, kalau sudah benar-benar siap, baru kita adakan. Selama belum diputuskan gereja dibuka, umat diminta bersabar dan ibadah secara live streaming,”ungkapnya.

Baca juga:  Dr Michael Wattimena, SE., MM Memberikan Apresiasi Keputusan Gubernur DKI Jakarta Memberlakukan PSBB Ketat

Ketua PGLII, Pdt. Ronny Mandang, memberikan catatan beberapa point, diantaranya. Pertama, fungsi ibadah itu sendiri. Dalam diskusinya dengan Dirjen Katolik, terungkap kemungkinan umat Kristen dalam hal jumlah akan mengalami penurunan saat mulai ibadah lagi. “Dengan adanya ibadah online, banyak orang berfikir buat apa lagi ke gereja. Kita bisa melalui Youtube bisa memlih pengkotbah. Fungsi ibadah ini, anak-anak dan lansia dianjurkan tidak ibadah dulu. Kita memahami bahwa fungsi ibadah yang biasanya ada esensi dari persekutuan yang Kudus dan Am dan sebagainya,”paparnya.

Point kedua, Pdt. Ronny Mandang mengatakan fungsi sosial. Harus diperhatikan jangan sampai gereja menjadi cluster baru dari persebaran pandemic Covid-19, karena saat ini sudah melakukan kembali ibadah secara langsung. “Jangan sampai menjadi cluster baru karena permasalahan disiplin dikalangan masyarakat yang masih sulit. Mentalitas untuk merubah sikap jemaat tidak mudah. Kita harus membiasakan diri. Perlu ada edukasi dalam menerapkan protokol Covid-19.

Sedangkan Pdt. Rubin Adi Abraham, berpendapat Pandemic Covid-19 ibaratnya gereja mengalami gempa 10 skala richter. “Orang Kristen harus cepat tanggap di era new normal ini,”katanya dan meminjam kajian, Alvin Toffler, dimana tahun 2020 ada 5 mega trend yang akan dialami oleh umat Kristen yang meruapakan pergeseran beribadah. Pertama Esensi ibadah adalah masa era new normal dan seterusnya bergeser dari ritual menjadi relationship. Dituntut untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Kedua tempat ibadah mengalami pergeseran, dari gedung menjadi tempat pribadi, seperti gereja mula-mula. Ketiga, relasi ibadah baik dengan Tuhan dan juga dengan sesama. Ini sangat penting. Relasi kepada sesama sifatnya monolog. Keempat, sarana ibadah menjadi berubah dari gereja gedung menjadi di rumah melalui ibadah online dan media sosial lainnya. Banyak gereja bahkan pendeta gagap terhadap masalah online. (Vifa5)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here