Vitamin D Dapat Menjadi Penangkal dari COVID-19

0
ilustrasi : Vitamin D yang terkandung dalam makanan.

AMERIKA SERIKAT – Vitamin D tentunya sangat dibutuhkan oleh manusia, bahkan dapat menghambat COVID 19. Para ahli medis sedang mempelajari cara-cara untuk memperlambat penyebaran COVID-19, salah satunya meneliti nutrisi dari  Vitamin D.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memeriksa kadar vitamin D pada pasien COVID-19 dan pengaruhnya terhadap tingkat pemulihan pasien. Salah satu studi Lab. Nature menyatakanm bahwa tingkat kematian akibat COVID 19 akibat kekurangan vitamin D (21% vs 3,1%). Jika kadar vitamin D sangat rendah pada pasien COVID-19, maka tinggkat kesembuhannya menurun.

Menurut Penelitian disebuah Roma Laboratory di kota Texas, dilakukan tes memberikan vitamin D kepada pegawai kota dan hasilnya 95 persen orang dewasa yang bekerja di sana memiliki tingkat vitamin D yang sangat rendah, seperti di lansir oleh KRGV-News, Rabu (06/01/2021).

BACA JUGA  Semi Ojeleye,Atlit Basket NBA Yang Rajin Mewartakan Firman Tuhan Melalui Media Sosial Pribadi

Menurut salah satu dokter yang melakukan penelitian di Roma Laboratory, Dr. Raymond Musset bahwa jika indovodi kekurangan vitamin D, sangat rentan terhadap virus Covid 19. “Jika jumlah kadar vitamin D dalam tubuh sangat rendah, orang tersebut memiliki risiko lebih tinggi tertular COVID-19,” ungkapnya Dr. Raymond Mussett. Ia juga menjelaskan bahwa dengan suplemen vitamin D setiap hari, maka  sudah menolong mencegah dari bahaya Covid 19.

“Setiap orang berusia 15 tahun ke atas harus memiliki asupan vitamin D3 per hari selama 14 hari. Mengonsumsi suplemen Vitamin D juga bisa dalam dosis tinggi,” tambah Dr. Mussett.

Menurut KRGV, masyarakat  yang memiliki kadar vitamin D rendah biasanya ditemukan di Hispanik, Afrika, Amerika, dan orang dengan kondisi medis kurang sehat. Pada September 2020 lalu, seorang dokter The Boston Herald Dr. Michael Holick, profesor kedokteran, fisiologi, dan biofisika di Fakultas Kedokteran Universitas Boston Universitas Boston mengatakan vitamin D yang cukup dapat mengurangi risiko tertular virus corona hingga 54 persen. Bersama rekan-rekannya, Dr. Holick mempelajari sampel darah dari lebih dari 190.000 orang Amerika di seluruh 50 negara bagian. “Orang-orang telah mencari obat ajaib atau menunggu vaksin dan tidak mencari sesuatu yang sesederhana ini, semakin tinggi status vitamin D Anda, semakin rendah risikonya, ” jelas Dr. Holick.

BACA JUGA  Pdt. Kristina Faraknimella Bicara Hubungan Antara Pandemi dan Integritas

“Kadar vitamin D yang sangat rendah memiliki banyak konsekuensi negatif dan ini bisa menjadi kasus COVID-19, jika suplemen vitamin D dengan rutin dikonsumsi, maka akan mencegah infeksi parah,” kata Holick kepada media Healthline Desember 2020 lalu. (Jaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here