Wanita Masih Minim Dilibatkan dalam Pembangunan Perdamaian

0
Ilustrasi : perjuangan wanita dalam perdamaian dunia (Foto : Marcelo Schneider/ dok. WCC)

Jakarta – Selasa (23/3/2021) para pemimpin wanita berupaya menciptakan perdamaian di tengah konflik di dunia berkumpul secara daring bersama Gereja-Gereja Dunia, Agama-agama untuk Perdamaian, dan Federasi Lutheran Dunia. 

Acara yang paralel dengan Komisi ke-65 tentang status wanita ini mengambil tema “Penerusan Iman: Wanita Perantara Perdamaian dalam Konflik & Krisis.” 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Religions for Peace, Prof. Dr. Azza Karam mengatakan menjadi tantangan tersendiri bagi seorang pemuka agama wanita dalam menjalani tugas pelayanan untuk perdamaian. “Perempuan sendiri harus menjadi teladan bagaimana melibatkan semua orang. Penting untuk berada di meja perdamaian sebagai wanita yang mewakili berbagai kepentingan, bukan hanya kepentingan kita-kecuali tidak ada,” katanya seperti dilansir dari website resmi World Council of Churches (WCC). 

Baca juga:  PGLII Tanggapi Hasil TGPF Pemerintah RI dan Komnas HAM RI Kematian Pdt. Yeremia Zanambani, S.Th

Pendiri Setaweet, sebuah gerakan feminis Ethiopia, Dr Sehin Teferra mengungkapkan di Ethiopia, pemerkosaan dipakai sebagai senjata perang. “Yang dapat kami lakukan adalah menawarkan analisis berdasarkan gender tentang apa yang sedang terjadi. Kami berbicara tentang komunitas agama yang menyebabkan kekerasan semacam ini pada komunitas agama lain,” ungkapnya.

CEO Christian Aid, Amanda Khozi Mukwashi menjelaskan bahwa konflik yang dilatarbelakangi identitas membuat ketidak nyaman bagi kaum wanita. “Saat identitas mengambil alih atau menjauh dari nilai-nilai kita, itulah identitas beracun. Perempuan tidak didengarkan dalam kelompok agama. Jika kita tidak duduk di meja mengambil keputusan akan sangat sulit untuk dibawa ke ruang pengambilan keputusan di meja yang membahas perdamaian dan keamanan,” jelasnya. 

Sementara itu, Sekretaris United Evangelical Lutheran Churches di India, Ranjita Christie Borgoary, mengungkapkanwanita membutuhkan pemimpin yang mendengarkan dan bertindak untuk keadilan. “Kami memiliki banyak pendeta wanita tetapi mereka tidak diberi kesempatan. Karena sistem dan struktur patriarki, mereka berjuang untuk naik ke posisi kepemimpinan,” ungkapnya. 

Baca juga:  6M, Cara Pdt. DR. Ir. Niko Njotorahardjo Hadapi Covid-19

Di akhir, pengurus regional Federasi Mahasiswa Kristen Dunia-Timur Tengah, Mira Neaimah menegaskan perjuangan bagi seorang wanita muda, perjuangannya menjadi jauh lebih besar. 

“Kami setara dalam hal iman, dalam tugas, dalam melayani Tuhan. Kita harus sadar bahwa bukan hanya karena kita perempuan (maka), kita harus melakukan karena kita adalah orang Kristen. Kita harus sadar bahwa kita adalah suara kenabian, di mana pun kita berada,” kata Mira.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here