Wejangan Gus Miftah: Pentingnya Memahami Arti Kebhinekaan

0
Gus Miftah
Bamsoet (kiri) dan Gus Miftah (kanan) dalam acara ilaturahmi Kebangsaan Demi Merawat Kebhinekaan dan Keutuhan NKRI’ yang digagas Polda Bali. (Foto: Istimewa)

Bali – Pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta, Miftah Maulana Habiburrahman atau akrab disapa Gus Miftah memberikan analogi Indonesia ibarat sebuah rumah yang memiliki 6 kamar. Kamar yang dimaksud adalah agama yang diakui pemerintah yaitu Kristen, Islam, Katolik, Budha, Hindu dan Konghuchu.

“Saya meyakini ketika orang Indonesia kembali ke kamarnya masing-masing, maka tidak akan ada masalah. (Tapi) yang jadi masalah ketika kembali ke kamar orang lain,” ungkapnya dalam acara ‘Silaturahmi Kebangsaan Demi Merawat Kebhinekaan dan Keutuhan NKRI’ yang digagas Polda Bali, Kamis (20/5/2021) dan disiarkan melalui kanal Youtube Bid Humas Polda Bali.

Gus Miftah menceritakan, pola pikir masyarakat Indonesia masih banyak yang keliru soal Kebhinekaan. Seperti beberapa waktu lalu ketika dirinya ‘dihabisi’ di media sosial karena ceramah dalam acara peresmian sebuah gereja di Penjaringan, Jakarta Utara.

“Waktu itu saya pikir gini. Kalau saya masuk gereja dalam rangka peresmian gereja lalu dibilang kafir dan gugur keislaman saya, saya jadi membayangkan betapa banyak orang Indonesia yang kafir gara-gara masuk candi Prambanan dan Borobudur karena mereka berwisata kesana,” ungkapnya.

Baca juga:  GBI Victorious Family Hadir di Fame Hotel Serpong, Ikuti dan Nikmati Hadirat Tuhan

Gus Miftah meminta masyarakat harus menghilangkan pola pikir semacam itu supaya tidak ada lagi orang yang dengan mudah menyebut orang lain kafir atau sesat. “Mereka yang gagal paham dalam kebhinekaan, menjadi mudah menistakan agama yang lain, menyemarakan intoleransi, serta berujung pada sikap radikal. Agar tidak gagal paham, ikutlah pendapat ahli, jangan ikut orang yang ahli berpendapat,” katanya.

Menurut Gus Miftah, Kebhinekaan yang dimaksud yaitu sikap saling menghargai perbedaan agama, suku maupun ras. “Dulu saat saya SD saya diajarkan untuk mencintai negara melalui pelajaran PMP kebangsaan, kita diperintahkan untuk menghafal nama nama pahlawan, menghafal lagu lagu kebangsaan. Sehingga orang orang saat ini mudah diprovokasi dengan isu SARA,” cerita Gus Miftah.

Gus Miftah pun turut memberikan contoh perbedaan antara negara Arab dan Indonesia. “Lalu apa yang membedakan Indonesia dengan Arab? Indonesia hadir dengan banyak bangsa dan berdiri nama bangsa Indonesia. Apa yang mempersatukan itu rasa senasib sepenanggungan, satu ideologi yang sama, yaitu Pancasila. Sampai saat ini Pancasila mampu menjadi alat pemersatu,” tegasnya.

Baca juga:  Peringati Bulan Pelkes, Ini Seruan Sinode GPIB

Sementara itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) dalam pemaparannya mengajak masyarakat ikut menjaga kebhinekaan dalam pluralitas. Pasalnya, Indonesia sejak berdiri terdiri dari beragam suku, ras dan agama.

“(Jangan) malah menghancurkan ikatan kebangsaan melalui polusi ujaran kebencian berlandaskan SARA. Khususnya dengan menyalahgunakan ajaran agama untuk merendahkan ataupun memusuhi saudara sebangsa, maupun mendiskreditkan salah satu suku tertentu. Ingat, mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudara dalam kemanusiaan dan puncak ajaran agama adalah cinta,” tegasnya.

Sebagai informasi, turut hadir Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Kapolda Bali Irjen Pol. Putu Jayan Danu Putra, Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Husein Sagaf, Anggota Komisi IV DPR RI AA Bagus Adhi Mahendra Putra dan tamu undangan lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here