Yaqut Qolil : Siapa menindas Orang Lemah, Menghina Pencipta-Nya (Amsal 14:31)

0
Yaqut Cholil
Menteri Agama Yaqut Cholil

Dalam webinar Moderasi Beragama dalam Terang Injil, Rabu (3/2/2021), Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyitir ayat dari kitab Amsal 14:31 “Siapa menindas orang yang lemah, menghina pencipta-Nya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.” 

Menurutnya konsep memanusiakan manusia sejatinya adalah konsep dari humanisme. Dan hal yang paling mendasar dalam menerapkan memanusiakan manusia pada paham humanisme adalah kasih.  “Kasih dalam konteks humanisme memiliki arti mau membuka diri untuk keluar dan menjadi satu dengan yang lain. Kasih kepada sesama memiliki arti menghormati dan menghargai lebih dari martabatnya,” kata Yaqut dalam sambutan yang dibacakan Dirjen Bimas Kristen Thomas Pentury.  

Beragama, lanjut menteri yang disapa Gus Yaqut ini masih menjadi barang mahal di Indonesia. Buktinya masih banyak pembahasan dari para tokoh agama, pejabat dan kalangan akademisi untuk 2 pokok permasalahan yaitu tindak kekerasan sekaligus radikalisme dan problem regulasi yang dinilai belum menjadi produk yang menjamin kebebasan umat beragama. 

“Kerukunan umat beragama di Indonesia adalah satu-satunya pilihan, tidak ada pilihan lain dan kita harus terus mengembangkan dan mempertahankan,” tegasnya. 

Katanya lagi, beragama dengan roh Keindonesiaan berati tidak mempertentangkan keperbedaan dan kemajemukan agama. Sebaliknya, terbuka pada kemajemukan yang dibangun atas narasi persaudaraan. “Sikap eksklusif yang hanya mengakui kebenaran sepihak akan menimbulkan gesekan antar umat. Konflik keagamaan yang kerap terjadi umumnya dipicu karena sikap eksklusif,” terangnya. 

Baca juga:  Pelaksanaan Vaksinasi Selama 15 Bulan, Berlangsung 2 Periode

Gus Yaqut berpesan yang perlu dilakukan untuk menjaga kemajemukan adalah dialog antar umat beragama. Sayangnya dialog antar umat biasanya terbatas dalam bentuk legal formal dan biasanya hanya dilakukan tokoh agama. Sehingga itu terasa kering, tidak menyentuh pergumulan umat dan jauh dari kenyataan sehari-hari umat. “Dialog antar umat beragama khususnya perlu ditanamkan dan diajarkan bagi generasi muda dan kelompok-kelompok yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan,” katanya. 

Sementara itu Ketum PGI Gomar Gultom memandang  moderasi agama diperlukan supaya ada kedamaian antar umat. “Moderasi agama selalu bertumpu pada nilai-nilai universal kehidupan, kesepakatan bersama di tengah kemajemukan dan pada upaya penciptakan ketertiban bersama,” katanya. 

Pdt. Gomar Gultom mengatakan pada dasarnya semua agama pasti menawarkan damai, hanya saja dalam kenyataannya kerusuhan dengan sentimen agama justru kerusuhan paling mengerikan. Biasanya perspektif pelaku adalah untuk membela agama yang dianutnya. “Agama selalu menawarkan damai dalam dakwah dan khotbah tapi dalam praktiknya agama juga dijadikan dasar bagi kekerasan dan pembunuhan yang makin menjauhkan kita dari rasa damai,” katanya. 

Baca juga:  BUKU RENUNGAN ANTAR INDONESIA RAIH EMAS OLIMPIADE

Gereja, lanjut Pdt. Gomar termasuk di dalam pelaku praktik kekerasan. Salah satu indikatornya adalah provinsi Kristen di Indonesia khususnya NTT dan Papua, nilai kekerasan dalam rumah tangga masih tinggi. Itu artinya umat Kristen masih ikut dalam budaya kekerasan.  

Pdt. Gomar menjelaskan kekerasan selalu berdampingan dengan kehidupan karena banyak orang salah menggunakan cara untuk mencapai kedamaian. “Ketika kita ingin menggapai damai untuk diri kita, kita juga sering mengenyampingkan damai orang lain. Itu adalah perdamaian semu,” katanya. 

Untuk mewujudkannya, Pdt. Gomar berkata diperlukan kedewasaan dari umat beragama untuk saling berdialog dan terbuka terhadap ajaran agama lainnya. Sebab, tidak bisa dipungkiri manusia serba terbatas sehingga tidak menutup kemungkinan manusia salah mengartikan teks kitab suci. “Kesadaran akan keterbatasan itu akan memberi kesediaan mendengar tafsir yang berbeda. Memudahkan kita memasuki makna terdalam dari teks, melebihi kata-kata dari teks tersebut,” urainya. 

Pendeta yang tidak pernah lepas dari darah aktifis ini mengungkapkan, jika moderasi beragama dapat terwujud maka akan adanya pengembangan substansi beragama dalam hal penguatan nilai-nilai substansial–universal daripada simbol keagamaan. Juga akan terwujud kesediaan berdialog dengan teks yang mengarah pada reformulasi ajaran agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here